Tuesday, July 29, 2014

Wisata Mistis di Buffalo - USA

Salah satu ke-khas-an Indonesia adalah ragam budayanya. By saying that, termasuk juga diantaranya mitos mitos dan cerita cerita misteri yang ada di pelosok Nusantara.

Beruntungnya, sejauh ini (dan semoga selamanya), saya tidak pernah punya pengalaman berinteraksi dengan dunia lain. Memang rasa parno saya biasanya muncul di Indonesia ketika melihat hutan rimba sumatera atau membayangkan berkemah di pedalaman jawa atau pelosok Nusantara lainnya. Mungkin karena saya tumbuh dengan banyaknya cerita cerita misteri yang lebih heboh daripada gosip selebritis. Dulu pun saya juga suka baca komik petruk gareng karya Tatang S yang ceritanya kurang lebih ketemu cewek cantik sewaktu magrib, tetapi setelah mau dikencani eh berubah wujud. Terus ada juga majalah paranormal dimana tokoh utamanya yang dikerjaiin mahkluk lain ntah itu karena sembarangan bertindak/bertutur kata, dosa atau apapun itu sebabnya.

Begitulah, sepertinya setiap sudut di negeri ini bisa membuat bulu kudukku berdiri.


Spring break 2014, saya jalan jalan di Buffalo, salah satu kota di New York State - USA. Buffalo awalnya merupakan salah satu kota industri yang pertama di Amerika Serikat namun akhirnya tumbang pada krisis ekonomi yang terjadi di tahun 2000an sehingga menyebabkan banyak pabrik gulung tikar dan ditingalkan begitu saja. Orang orang yang sebelumnya memanen dolar juga harus hengkang dari rumah besarnya. Sayang hingga sekarang rumah besar bak mansion itu tidak laku laku juga walaupun telah dijual super murah.

Satu satunya alasan saya dan teman saya ke Dead City ini karena merupakan akses terdekat menuju air terjun Niagara. Sedikit saya tahu bahwasanya Buffalo juga termasuk haunted town.

Hari pertama, teman saya yang orang lokal Buffalo menawarkan untuk memandu dan mengantarkan saya dan teman teman ke kuburan. Hari masih siang dan putih salju yang cantik menghiasi kota tetapi tentu saja pikiran negatif tak bisa dihindari membuatku mengatakan "No,thanks."

Tetapi karena kedua teman saya yang lain ngotot ingin pergi kesana, maka sebagai manusia yang menjunjung demokrasi, terpaksalah saya tak berkutik ketika mobil kami arahkan menuju kuburan Forest Lawn Cemetry.

Buang dulu sejenak pikiran akan kuburan ala ala Indonesia. Begitu sampai di gerbang kuburan yang megah serta berwarna putih ini, saya baru ngeh kenapa kuburan ini justru masuk dalam satu satu tempat wisata yang layak dikunjungi.

Forest Lawn Cemetery adalah kuburan yang megah dan terawat sangat baik. Jauh dari kesan kotor. Kalau mistis...hm yah namanya juga ke tempat orang yang telah wafat, tentu saya pun jadi mawas diri tidak berani jauh jauh dari teman teman.

Berlokasi di lahan seluas hampir 109 hektar dan menampung lebih dari 160.000 orang, Forest Lawn Cemetery memang dirancang tidak hanya untuk tempat menguburkan mayat tetapi mempunyai gabungan nilai seni dan keindahan. Tak pelak berada di sini, walaupun semriwing dingin, saya berasa di taman..surga. Ada aliran sungai kecil yang membelah kuburan serta kontur tanah yang sedikit berbukit bukit. Orang yang dimakamkan di sini pun turut menjaga keindahan kuburan dengan membangun nisan yang indah dan bahkan beberapa tampak seperti rumah atau tugu.
Forest Lawn Cemetery

Berdasarkan moto mereka, “One of the most lovely resting places of the dead in the country.”, tak heran jika di sini juga ada makam Presiden USA ke 13, Millard Fillmore dan juga beberapa walikota Buffalo.


Kuburan Presiden USA ke 13, Millard Fillmore
Memang sih kuburannya terkesan mewah tetapi kalau malam tiba mungkin suasananya akan berubah pula.

Perjalanan berikutnya menuju lokasi yang menurut saya cocok banget sebagai lokasi film horror yakni rumah sakit jiwa bernama Henry Hobson Richardson. Nama tersebut diambil dari nama arsitek yang membangunnya di tahun 1870. Dari luar saja, saya sudah terbayang keseraman gedung tua yang telah ditutup sejak tahun 1970. Menurut orang lokal, isu isu makhluk gaib yang bermunculan di sini sudah terdengar biasa. Dulunya, di tempat ini para pasien kelainan jiwa tersebut kabarnya dijadikan kelinci percobaan dan banyak diantaranya mengalami penyiksaan dan kekejaman selama diobati.

Tidak heran jika di sini, masih dapat dilihat barang barang pasien serta terdengar "mereka" yang meronta ronta atau memanggil manggil. Sewaktu saya mengambil poto ini juga diingatkan untuk mengecek apakah di jendela tersebut ada sosok yang tampak. Takuuuut!

H.H Richardson Complex

Bagi yang punya nyali besar, dapat mencoba twilight tour mereka. Dijamin pasti mendapat pengalaman yang berarti.

Kalau buat saya, cukuplah melihat dari luar saja, itu sudah CUKUP BANGET! Yuk ah pulang takuntya ada yang ngikutin.
*lihat ke belakang*

Monday, July 28, 2014

Cable Car San Fransisco

Moda transportasi yang unik di suatu tempat kadang kala tak hanya menjadi alat transportasi belaka tetapi masuk dalam daftar yang tak boleh dilewatkan untuk dicoba seperti becak motor di Medan atau becak di Jawa.

Jika berkunjung ke San Fransisco, pastinya juga tidak akan melewatkan Cable Car. Cable Car menjadi wajah dari San Fransisco setelah masuk di (paling tidak) 6 film Hollywood. Dengan berlatarkan laut biru di belakang, di situlah si cable car perlahan lahan menaiki jalanan San Fransisco yang berbukit bukit. Di layar TV tampaklah sang pemeran utamanya yang gelendotan di salah satu tiang Cable Car, atau berlari mengejar Cable car atau yang nge lompat dari cable car demi mengejar pujaan hati. Yang belum ada cuma kelindes cable car aja. Hiiii!

San Fransisco - Cable Car
Diperkirakan ada 9,7 juta orang yang menaiki moda transportasi bersejarah ini setiap tahunnya. San Fransisco menyediakan 3 Line Cable Car yang masih beroperasi dengan total ada 44 cable car yang tersisa.


Cable Car dioperasikan oleh dua orang yakni kondektur dan gripman. Kondektur berfungsi layaknya kenek angkot di Indonesia. Memanggil manggil penumpang, mengingatkan jurusan yang dituju, memaksa penumpang masuk dan berjubel di dalam hingga menarik iuran serta tiket. Posisinya biasanya ada di luar sambil membunyikan bel dan memastikan penumpang nggak ada yang bandel dan berdiri di tempat yang seharusnya.

Yang satunya lagi adalah kondektur yang fungsinya seperti supir. Cable car tidak memiliki mesin dan sepenuhnya dijalankan menggunakan kabel yang terhubung di sepanjang jalurnya dan digerakkan oleh mesin di ruang kendali utama yang berada di Cable Car Museum. Tugas si kondektur adalah menjaga kecepatan laju cable car dengan cara mengendalikan grip berupa tuas besi panjang di dalam cable car yang beratnya bisa mencapai 165 kg.

Kondektur harus memastikan cable car berjalan stabil yaitu 9 mil per jam. Hal ini tentu tidak mudah mengingat jalanan San Fransisco yang penuh penurunan dan pendakian curam. Belum lagi dengan berat cable car mencapai 8 ton, pekerjaan ini memerlukan kekuatan fisik yang tidak main main. Tercatat hanya ada satu wanita yang pernah menjadi grip(women) di San Fransisco yakni Fannie Mae Barnes, seorang single mother berusia 52 tahun.
 
Tak hanya cara kerjanya saja yang unik bahkan juga cara pembuatannya. Untuk membuat satu buah cable car saja dibutuhkan lusinan pekerja khusus selama 18 hingga 24 bulan. Mengapa begitu lama? karena mereka menganggapnya lebih sebagai karya seni daripada hanya sekedar alat angkut manusia. Beberapa bagian cable car dipahat langsung oleh tukang kayu dari pohon oak atau jenis kayu keras lainnya. Selain itu, keseluruhan proses pembuatan dikerjakan langsung dari tangan tangan para tukang kayu tanpa bantuan mesin. Bahkan mereka mengklaim warna kayu yang terdapat di Cable Car tersebut asli dan alami bukan berasal dari cat buatan.

Mesin Penarik Cable Car di Cable Car Museum
Awal mulanya ide pembuatan Cable Car terjadi ketika pada tahun 1869, penemunya yang bernama Andrew Smith Hallidie menyaksikan kecelakaan di mana 5 kuda penarik barang yang sedang menaiki penanjakan curam tergelincir dan terseret turun ke bawah apalagi ditambah dengan muatan barang yang diangkut kuda tersebut sangat berat. Saat itu jalanan bebatuan tersebut memang licin dan akhirnya mengakibatkan kuda kuda tersebut meninggal. Kejadian naas tersebutlah yang kemudian membuat pria inggris itu mencoba sarana angkutan yang lebih baik

Pada zaman tersebut, kuda memang menjadi moda andalan untuk menyiasati jalanan San Fransisco yang turun naik. Tetapi hal ini sebenarnya tidaklah efisien. Biaya untuk memelihara kuda mahal, kuda tidak dapat banyak menaiki jalanan yang mendaki, dan kotoran kuda yang menumpuk di jalanan kota San Fransisco membuat masyarakat harus menemukan moda transportasi dan angkutan yang lebih baik.

Akhirnya pada tahun 1873, cable car tersebut berhasil diciptakan dan hingga sekarang menjadi saksi bisu bersejarah perkembangan San Fransisco.

Tarik Mang

Monday, July 21, 2014

Indonesia dalam Taman Mini Indonesia Indah Jakarta

Gak punya duit, waktu, tenaga buat keliling Indonesia? Sayang banget padahal Indonesia itu beragam dan indah banget.

Paling tidak minimal bisa mampir dulu deh di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.

TMII merupakan inisiasi dari Ibu Tien Soeharto pada tahun 1970 dimana ia berkeinginan untuk membangkitkan rasa bangga dan cinta tanah air masyarakat dengan memperlihatkan betapa indah dan megahnya Indonesia. Rancangan ini disetujui pada tahun 1971 dan kemudian pembangunan tahap pertamanya selesai dalam kurun waktu 3,5 tahun. Tepat pada tanggal 20 April 1975 TMII diresmikan oleh presiden Soeharto.

Terletak di lahan seluas kurang lebih 150 hektar, TMII itu luas banget jadi harus dipikirkan baik baik mau melihat apa, masuk yang mana dan mau ngapain. Saya awalnya hanya teringat oleh keong emas yang mirip mirip Opera House Sydney sehingga itulah yang menjadi prioritas saya.

Bersama dengan dua teman saya, dari Bintaro kami menggunakan bus dan angkot. Uh rasanya belum nyampe aja sudah mau menyerah karena harus gonta ganti angkot, bersabar dengan angkot ngetem, tunggu angkot di jalan hingga akhirnya bisa melihat gerbang TMII. Mungkin ada 2 jam di jalan!

Setelah membayar tiket masuk, kami berkunjung terlebih dahulu ke Visitor Information Centre untuk meminta peta serta melihat gambaran kira2 apa saja yang akan ditelusuri. Daripada bingung mending kami naik kereta gantung terlebih dahulu untuk melihat gambaran TMII dari atas. Ada dua line kereta gantung dan karcisnya per line adalah RP.30.000 / orang. Hari itu cukup sepi sehingga kami bertiga bisa langsung naik.

Naik Kereta Gantung
Sewaktu naiknya kami lebih banyak teriak histeris apalagi melihat keretanya cuma bertumpu pada satu besi penahan dan tiap kali melewati tiang penahan, seperti melewati polisi tidur. Gluduk! Jantung copot!

Setelah lama lama agak terbiasa, barulah kami baru bisa menikmati pemandangan sekitar di Bawah. Tampaklah yang paling mencolok mata adalah Snowbay Waterparknya baru setelah itu rumah adat tiap tiap daerah di sebelah kiri sementara taman mini dan danau buatan bergambarkan peta Indonesia ada di sebelah kanan.

SnowBay Water Park

Rumah suku asmat

Setelah naik kereta gantung dan belum memutuskan akan kemana lagi berikutnya, EH perut sudah minta diisi karena bertepatan juga dengan makan siang. Langsung saja kami makan di restoran cepat saji namun rasanya kurang mengena di perut, hati dan kantong. Untung saja sebelum ke sini, saya sudah memasak mi instan beberapa bungkus. Dalam sekejap mi dalam tupperware besar itu pun ludes, Hahah untung tidak termasuk kotaknya :)

Memang makan dulu setelah itu baru otak dapat bekerja dengan baik. Kami memutuskan ingin leha leha naik mobil keliling tapi setelah tahu itu tidak gratis (Rp.5.000) kami membatalkannya, mendingan jalan kaki saja ke Keong Emas dulu sambil olahraga sehabis makan.
Keong Emas
Selama di TMII ada satu lagi yang menarik perhatian yakni maraknya peminjaman sepeda hingga sepeda motor. Ada sepeda biasa, ada sepeda panjang dengan 2 penumpang dan ada juga yang elektrik. Hm yang terakhir terlihat sangat menarik. Memang dasarnya kami bertiga ini banyak makan, tapi malas gerak lalu timbullah ide naik sepeda elektrik setelah foto foto di Keong Emas.


Sepeda Elektrik alias scooter ini hanya diperuntukkan bagi dewasa karena cara kerjanya kayak motor. Gas dan rem saja. Biayanya Rp.25.000 / 30 menit dan sebelum menyewa, harus meninggalkan KTP sebagai jaminan.

Istana Scooter TMII
Berkat scooter ini, kami akhirnya bisa mutar hampir ke semua anjungan provinsi tanpa lelah. Udaranya juga masih segar dan sangat menyenangkan apalagi nggak pakai macet. Harusnya jalanan jakarta seperti ini nih. Para pengendara pake motor tenaga surya atau listrik kayak gini supaya mengurangi polusi dalam jumlah banyak.

Sepeda Listrik Mini


Berkat sepeda listrik ini juga, kami merasa telah mengubek ubek TMII dan memutuskan pulang. LOL!

Wednesday, July 16, 2014

Blusukan di Solo Seharian


Surakarta atau yang lebih terkenal dengan sebutan Solo merupakan kota kecil di Jawa Tengah. Kota yang pernah juga dipimpin oleh Jokowi ini mempunyai magnet wisata yang sangat besar untuk menarik wisatawan karena beragam atraksi yang ditawarkan. Mulai dari sejarah, budaya, belanja hingga kuliner semuanya ada di Solo. Yuk mari kita blusukan di solo.

Tiket Masuk  : Rp.10.000, ditambah Rp.3.500 bagi yang membawa kamera
Jam Operasional :
Senin – Kamis: 9:00 – 2:00
Sabtu – Minggu: 9:00 – 3:00
Jum’at Libur
Keraton ialah istilah yang digunakan untuk tempat tinggal raja, ratu beserta keluarganya yang juga merupakan pusat pemerintahan dan budaya dari daerah tersebut. Keraton Surakarta Hadiningrat Solo yang dibangun pada tahun 1744 ini sepintas terlihat sama dengan Keraton yang di Jogja karena rancangan arsitektur bangunannya sama sama dibuat oleh Sultan Hamengkubuwono I. Bahkan di luar keraton pun, juga terdapat dua buah pohon beringin besar yang sering diuji oleh masyarakat untuk menentukan nasib layaknya yang banyak dilakukan di Jogja. Untuk memaksimalkan kunjungan anda, ada baiknya menggunakan jasa abdi dalem sebagai tur guide sehingga kita bisa mendapatkan pengetahun seputar keraton beserta hal hal yang tidak boleh dilakukan selama di dalam keraton, contohnya tidak boleh menggunakan sandal jepit, tidak boleh memfoto beberapa barang atau menyentuhnya. 

Keraton Surakarta Hadiningrat Solo
Srabi Notosuman
Alamat: Jl Mohammad Yamin No 28
Untuk menganjal perut sementara waktu, srabi solo dengan pilihan rasa seperti coklat ataupun polos adalah pilihan tepat sembari mengejar waktu untuk naik bus tingkat berikutnya. Ukurannya yang lebih besar dari srabi bandung dan t lebih tipis juga sangat cocok dijadikan makanan ringan untuk menjadi makanan ringan sepanjang perjalanan. Apalagi srabi Notosuman yang telah beroperasi sejak turun temurun merupakan salah satu penghasil srabi yang paling terkenal di Solo.

Alamat: Kantor Dinas Perhubungan Kota Surakarta
Jl. Menteri Supeno no 7 Manahan Surakarta
CP : Indri (085642005156) atau Sandi (085229790462)
Tiket : Rp.20.000
Jam Operasional :
Sabtu dan Minggu tiga kali keberangkatan yakni jam 09.00, 12.00 dan 15.00 tetapi harap mengecek terlebih dahulu
Werkudara Solo merupakan bus wisata bertingkat dua pertama di Indonesia. Bus karya anak bangsa ini adalah salah satu inisiasi dari mantan Walikota Solo yakni Jokowi. Sejak diluncurkan di tahun 2011, bus merah dengan tinggi 4,5 meter ini telah menjadi primadona wisatawan dan masyarakat lokal untuk lebih mengenal Solo. Selama kurang lebih dua jam perjalanan, bus ini juga difasilitasi oleh pemandu yang menjelaskan beberapa objek wisata yang dilewati. 

Werkudara Solo
Sebagai salah satu sentra penghasil batik berkualitas, Kampung Batik Kauman merupakan salah satu tempat yang harus dikunjungi terlebih lagi di toko Gunawan Setiawan, terdapat workshop membatik. Dengan hanya membayar Rp.50.000 anda dapat belajar langsung dari ahlinya dan membawa pulang hasil batik ciptaan tangan sendiri. Jangan takut repot karena semua alat dan bahan disediakan.

Kampung Batik Kauman
Lebih dikenal sebagai pasar antik, pasar tradisional ini menarik untuk dilihat karena menyajikan benda benda yang nyaris punah keberadaannya. Bagi kolektor benda antik, pasar dengan dua lantai ini adalah surga. Tetapi harus tetap berhati hati karena bisa beberapa barang dikhawatirkan dibuat sedemikian rupa agar terlihat antik. Skill tawar menawar harga juga sangat dibutuhkan untuk mendapatkan harga yang pas di kantong.
Pasar Triwindu
Alamat: JL.Adi Sucipto Jajar 99 Solo
Untuk melengkapi oleh oleh bagi sanak saudara dan teman teman, anda dapat membeli buah tangan di Javenir. Sebagai pusat oleh oleh dengan harga yang bersaing, saya mendapatkan aneka oleh oleh yang lengkap.

Alamat: Keprabon
Nasi liwet adalah makanan khas solo yang berupa nasi yang dimasak dengan kelapalayaknya nasi uduk serta disajikan dengan labu siam, areh, ayam dan telur. Di sepanjang jalan ini terdapat banyak sekali penjual nasi liwet yang rata rata menjualnya masih dengan cara tradisional. Salah satu yang saya cicipi adalah di warung ibu Wongso Lemu Asli (Cipto Sukani). Satu paket komplet nasi liwet dihargai sebesar Rp.15.000. 

Nasi Liwet
Nasi liwet yang gurih ini tak hanya mengenyangkan perut saya. Hati saya pun riang gembira mengingat telah seharian menempuh perjalanan indah di kota Solo kali ini. Semoga suatu saat dapat kembali lagi merasakan keindahan kota “The Spirit of Java”.

Notes:
Untuk akomodasi perjalanan, saya menggunakan fasilitas mobil sewaan per hari.

Sunday, July 13, 2014

Navajo Nation Trip : Beyond Expectation


Navajo Nation is the largest Indian reservation, mainly located in Arizona but some of the area extends to New Mexico and Utah. To go to the Navajo Nation, we (me and 15 International students) took two vans and one car from downtown Scottsdale. We started at 7.30 a.m. and arrived in Many Farms, Chinlle - Navajo Nation, at 2.15 p.m. Once I saw the city with dinosaur statues near the street, I had to set my clock one hour ahead from Arizona time because Navajo Nation observes daylight savings time.

Beautiful Canyon is Navajo Nation's main attraction

We stayed with Christina and Ollie and had an agenda to help them build house corral. Ollie works at the hospital and he is a Navajo and usually they call themselves Dine; Christina is an Anglo and an anthropologist. This newly wed couple was so kind and let us stay in traditional Navajo house called Hogan. Even though they have the modern house, but they still keep the tradition to have hogan, a modern ones made of cement. 

Modern Hogan

“This is one of the most important things you need to know,” said Christina when she gave us a tour in her house and ranch. 

She opened the wooden door and I held my breath. The smell was terrible. I took a glimpse and could not stand it at all. I ran out away when Christina opened the cover of the toilet. I stood five meters away from the two- meter wood building called a “natural bathroom” or outhouse. The funny thing is those outhouse has two sit toilet next to each other.

"Yes, so you can chit chat with each other." said Christina when I asked why.


Outhouse - Navajo Nation
In the next morning, Ollie and Christina woke up before us. They taught us steps and gave instructions on building the corral. We were divided into small groups and did what they said. The soil was hard and dry. We need the machine to dig deeper and put the poles. At 2 p.m., the fence was built nicely and consisted of 19 poles. We named the pole as International pole and we each put our names in each pole.

Ollie let us had fun with his truck

Work hard, Play harder
Lenny's Pole

After a tiring day, all I wanted to do is standing under the shower and rinse off the dirt from my body but unfortunately I couldn't. We did not have running water in the bathroom or kitchen and even for drinking and cooking. The bathroom is just the place where they store some things. The only way to wash the dish was to put the water into two washbowl. The First washbowl was used to wash the dishes and the second washbowl was to rinse the dishes. Because there was no running water, the family had to buy their own mineral bottle for drinking, cooking and another uses. Ollie gets the water in Chinlle with his car and fill it up in big containers. That is why Christina told us to use the water wisely.

Luckily, the weather was warm in the morning, windy in the noon and cooler in the night. The himidity is very low and I didn't sweat much, so I felt fine not taking a shower for three days. I only washed my face and brushed my teeth. But for Christina and her husband, they takes a shower once a week. They will go to Ollie sister house to take a shower. For them, no shower every day is totally accepted.

After yummy dinner with Navajo frybread, everyone sat around the bonfire. Every participant from each country sang his/her own song. My friends and I sang "Disini senang Disana Senang" means here happy, there happy song from Indonesia and we taught the others too. Together we sang the song beautifully.  After that, we got introduced by s’more. S’more stands for something more which is a typical snack for camping. S’mores is consist of crackers, chocolate and grilled marshmallows. The S’more were really delicious and sweat. Two is enough for me, I'm not a sweet tooth though.

Bon Fire
Wanna some more?

By the end of the night, Ollie and Christina told us stories about Navajo myths. My friends also shared spooky stories of their own experience about spirits. I was so scared but had to hear everything until finished. I waited to go to bathroom, afraid to be alone in the empty and dark desert. Actually I held to go to bathroom all the day because I couldn't go to outhouse. Christina gave me the air sanitizer but the mix of the smell made it worse. Usually I took really long breath and held it as long as I can inside outhouse then rushed to go outside after finish it. Dont ever looked down!

So tonight, I had an idea to do my call nature in a real nature. I couldn't do it in a day because Navajo Nation is a flat area with no tree. I asked my friend to come with me and with permission from Christina, we did it!

Nonetheless, when the trip was over, I felt sad. Christina cried when we said good bye. We hugged each other and I promised I would never forget this moment.


Life is hard in Navajo Nation, they dont have everything here, just basic necessities. But as Dine believes, this place is the place belong to them designed by their creator and guarded by four sacred mountains, this is where you should be. Life is good, you just have to work hard.


International poles and students
anyway... I had good times peeing under beautiful stars.

Monday, July 7, 2014

Tourism and Community Development in Wakatobi, Indonesia

Indonesia is the largest archipelago country in the world. We always been told that our ancestor is the greatest sailor in the world. We have the song to tribute them. We proud and we believe that is in our blood.

Indonesia has more than 17,000 islands but the majority people lives in the big islands such as Sumatra, Java, Kalimantan (Borneo), Sulawesi (Celebes), Papua etc.

One of the islands that reflects the beauty of white sand, blue sky and coconut tree is Sulawesi. I feel so blast to do community development in one of their most beautiful region which is Wakatobi.

Me and my fellow friend from Australia Indonesia Youth Exchange Program start our journey from Kendari, the capital of Southeast Sulawesi by a big boat that carry almost anything that can fit in that wooden ship. Livestock, food, motorcycle and human are squeezed together in 7 hours trip.


As the head of Tourism division of the community development, me and my group saw the tourism potentials of the area but unfortunately there were no sufficient information about this region. So in two months of community development there, we created home stay with the local people, published booklet and brochures in both Bahasa Indonesia and English to attract tourists, did a claen up beach program and raised the local people awareness to keep the beach clean.

Promoting tourism potential in local radio station

Teaching English to local kids

Paradise in Wakatobi

Clean up beach, donating trash bin to Sousu beach Wakatobi

We received so many positive response and were grateful to witness this magical place. I also give the sample of our guide book to the Tourism goverment in case they need to produce tourism material. My last contact with the head of the village of Wanci, one of our main focus of development said they are achieving more and more tourist specialy foreigners and thankfully there are some kids that capable to be the tour guide. I can feel tourism has been a major development in this area and help support the economic growth. More and more hotel and resorts are built to support the demand of growing tourism.

I will never forget how Wakatobi made me feel like home because I was spoiled by my local hostfamily. They treated me and everyone like their own daughter. Till the day I write this post, I still keep in touch with them. I hope destiny will bring me back again to their warm village, when Bunda (how I called mother) cooked me noodle, served fresh fish with special chili and bapak (how I called dad) drove me to Waha beach with the only car in Wanci.

I believes everyone that visit Wakatobi, must left some of their heart here.

I hope this guide book will help you to have the most amazing trip that you should have. To download the free english guide book of Wakatobi, please click this link

Wednesday, July 2, 2014

Sehat dan Bugar dalam perjalanan

Berada di dalam pesawat, kereta, bus ataupun mobil dalam waktu panjang (lebih dari 5 jam) bisa bikin resiko jadi gak waras. Gila aja waktu selama itu dihabiskan dengan posisi duduk yang hampir sama yang berakibat bikin pegel secara fisik dan rohani.

Namun, apa daya perjalanan panjang terkadang tidak bisa dielakkan contohnya ketika mudik atau bepergian ke daerah yang jauh. Tetapi untungnya ada beberapa cara dan hal yang dapat dipersiapkan untuk mengantisipasi perjalanan panjang agar dapat sampai ketujuan sehat bugar jiwa dan rag. Berikut tipsnya :
1. Istirahat cukup sebelum perjalanan.
Banyak yang mungkin berpikir "Ah, nanti di bus/mobil/kereta/pesawat bisa tidur kok" lalu memutuskan malam sebelum keberangkatan bergadang atau tidak memenuhi waktu minimum tidur yang dianjurkan yakni 8 jam. Dulu saya juga punya konsep begitu, dan memang benar ketika di jalan bisa tidur, itu karena kondisi tubuh telah kelelahan karena asupan istirahat kurang. Ujung ujungnya makin saya tidur, badan terasa makin encok dan tidak fit. Syukur syukur tidak sampai jatuh sakit. Oleh karena itu, usahakan tidur cukup dan menjaga kondisi badan sebelum perjalanan.

2. Minum banyak air putih.
Dalam perjalanan, resiko dehidrasi sangatlah rentan. Mungkin saja kita tak merasa tubuh kekurangan cairan minuman namun nyatanya, tubuh memang perlu asupan air secara teratur untuk mempertahankan kesegaran tubuh. Kalau saya biasanya hanya malas minum air dikarenakan takutnya kondisi toilet umum yang tidak bersih. Sebagai gantinya saya atasi dengan minum banyak banyak dan bolak balik toilet sendiri sebelum melakukan perjalanan. Bawa juga selalu botol air minum dan air minum sendiri agar tidak perlu membeli di jalan. Lumayan buat penghematan juga!

3. Bawa bekal
Saya tipe orang yang membawa bekal kemana mana karena prinsip saya lebih sehat dan hemat. Ribet sedikit tidak apa karena nantinya ketika perut minta diisi saya tidak harus kerepotan mencari tempat makan. Biasanya dalam perjalanan, kita tidak memiliki banyak pilihan makanan yang tersedia, palingan ujungnya makan fast food. Jika tidak sempat memasak atau membeli, disarankan membawa buah buahan atau makanan ringan.
Makan banyak sebelum perjalanan. Penting!
 4. Membawa alat hiburan.
Kalau gadget, saya percaya anda tidak akan meninggalkannya, karena elektronik tersebut sudah menjadi kebutuhan utama bukan lagi sekedar alat hiburan atau komunikasi. Tetapi ada baiknya juga membawa alat hiburan yang tidak tergantung dengan listrik seperti buku bacaan, mainan anak yang dapat dimainkan bersama, buku catatan agar dapat menulis atau music player biar bisa bersenandung ria. Jangan lupa selama perjalanan jika bersama teman/keluarga/pacar, jangan sampai malah lebih sibuk dengan diri sendiri dan melupakan quality time dengan mereka. Jadikan waktu ini sebagai saat yang tepat untuk berbincang dan berdiskusi. Alat hiburan ini pun berfungsi agar kita tetap merasa good mood sehingga dapat menikmati perjalanan dan sampai dengan ceria.

5. Obat obatan seperlunya.
Jika sudah tahu kemungkinan anda mabok perjalanan, bawalah Antimo atau obat sejenisnya. Boleh juga membawa minyak kayu putih atau balsem yang berfungsi untuk obat segala macam untuk di perjalanan. Jika anda penderita penyakit tertentu, bawalah juga obat obatan sebagai antisipasi jika penyakit kambuh. Selama di perjalanan, usahakan menjaga makanan, istirahat agar penyakit tidak kambuh.

6. Refreshment kit
Walau telah menempuh perjalanan panjang dan muka telah kusut serta pakaian bau knalpot, anda bisa mengantisipasinya dengan menyegarkan diri kembali. Bisa dengan mencuci muka, lalu jika punya tisu basuh dengan air dan lap bagian bagian tubuh yang kemungkinan paling banyak berkeringat seperti ketiak. Jika membawa tisu basah lebih baik lagi. Setelah itu anda bisa memakai deodorant atau menyemprotkan sedikit parfum agar orang orang tidak tahu bahwa anda belum mandi :)

Ada tambahan tips lainnya?
Selamat mempraktekkannya!