Sunday, July 5, 2015

Jalan Jalan naik kereta api Gambir - Bandung

Ada rasa bersalah di diriku.
Aku paling suka perjalanan dengan kereta api. Udah sempat pergi kemana mana namun kereta api di negara sendiri belum pernah dicoba. Durhakanya aku!

Nah jadi mumpung bakal berlibur bersama adik adik (baca : anak anak), aku putuskan inilah saatnya mencoba kereta api. Image kereta api kini memang sudah lebih baik. Tidak ada lagi yang serobot kursi, penumpang yang berlebih, pungli, jorok dan kesan negatif lainnya.

Aku sengaja memilih naik kereta api Argo Parahyangan dari gambir.
Berikut jadwal kereta api Gambir - stasiun Bandung Argo Parahyangan :
Berangkat Tiba
05.00         08.34
08.30         11.59
10.15         13.35
11.45         14.57
15.30         18.28
18.15         21.27
20.00         23.12

Saya dan adik adik memilih keberangkatan jam 10.15 karena ingin mengisi perut terlebih dahulu. Tiket per orangnya adalah Rp.90.000 di kelas bisnis.

Ketika hendak masuk ke stasiunnya, masih ada waktu luang kurang lebih setengah jam namun petugas pengecek karcisnya meminta kami menunggu di luar saja dulu. Takutnya salah masuk jalur dan kereta, begitu penjelasannya. Akhirnya kami mutar mutar dulu sambil mencari kursi kosong yang jumlahnya sangat sedikit itu.

Barulah ketika ada pengumuman kereta akan tiba, petugas memperbolehkan kami masuk. Untuk jurusan ke bandung, kereta api berada di lantai teratas jalur dua sebelah kanan.Tidak lama si kereta yang ditunggu dateng dan tampak beberapa pramugari serta kaptennya keluar untuk menyapa pengunjung turun dan membantu mengarahkan penumpang baru yang bingung masuk di gerbong mana (kami banget!)
Kereta Api Bisnis Argo Prahyangan Gambir - Bandung
Ternyata kereta apinya kursinya bisa diputar loh bagi yang berombongan biar asik duduknya berhadap hadapan. Kursinya sih tak cukup empuk namun lebar buat berdua dan kalo sendiri bisalah buat tidur.

Sepanjang perjalanan kereta api tidak berhenti di stasiun lain lagi jadinya tidak perlu khawatir akan macet dan penyusup.

Kereta api membelah jalanan
Asiknya lagi ketika sudah sampai di bandung pemandangan ibukota sudah tergantikan dengan hamparan sawah serta hijaunya bukit yang bikin hati adem.
Pemandangan sawah dari jendela kereta api Argo Parahyangan
Di perjalanan juga ada mbak mbak pramugari yang menawarkan makanan namun stok terbatas dan cepet habisnya. Menu seperti nasi rames dijual seharga Rp.35.000 dan teh Rp.5000. Ada juga sih air minum botolan dan pop mie bagi yang kelaparan. Untuk WC, kebersihannya terjaga dan jongkok pula. Salut!

Keputusan : Saya sungguh tak menyesal naik kereta api ke Bandung daripada naik travel. Waktu kedatangan dan keberangkatan semuanya on time. Petugasnya ramah dan sangat membantu. Kereta bersih dan perjalanan tak terkendala apapun. Recommended!

Tips nyaman berkendara kereta api Gambir - Bandung :
1. Belilah tiket terlebih dahulu. Bisa via online (nanti tinggal print sendiri di stasiun) maupun langsung datang ke konter tiketnya untuk menghindari kehabisan terutama saat peak season seperti lebaran.
2. Gunakan pakaian yang nyaman. Dalam gerbong bisnis, tersedia AC namun tidak terlalu dingin namun juga tidak panas.
3. Isi perut terlebih dahulu. Jika tidak sempat, lebih hemat jika bisa membawa makanan dan minuman sendiri buat bekal selama perjalanan.
4. Perhatikan barang bawaan. Ada sih porter yang bisa bawa bawaiin barang tapi kan bayar. Saya sih biar gak capek bawanya koper yang bisa didorong. Namun bukan yang gede karena tidak ada tempat bagasi hanya bisa diletakkan di kursi kita aja. Untuk tas bisa juga diletakkan di kompartemen atas.
5. Bawalah buku, laptop atau apapaun itu untuk memanfaatkan waktu dan mengurangi kejenuhan.
6. Jangan terlalu berisik karena rata rata penumpang memanfaatkan naik kereta untuk istirahat.

Teman teman, ada yang punya pengalaman (menyenangkan) lainnya juga?

Thursday, June 25, 2015

Pembuatan Paspor di Jambi

Saya panik.
1 bulan tepat sebelum pasporku akan expired, saya mendapatkan pekerjaan baru, sebut saja reporter jalan jalan di Jakarta. Mungkin saja kan nantinya saya diutus ke luar negeri?

Saya makin panik.
Waktu itu saya masih berdomisili di Jambi dan minggu depannya akan pindah ke Jakarta.

Pengalaman sebelum belumnya membuat & memperbaharui paspor meninggalkan kesan tidak enak. Ribet, bosan, antrian panjang dan calo yang selalu menyerobot membuat saya keburu jiper. Kayaknya lebih enak pake calo ya?

Tapi lagi lagi saya kembali panik.
Calo saya terdahulu sudah tiada dan saya tak punya kontak lainnya. Untungnya bulan lalu papa sempat memperpanjang paspornya dibantu oleh koko ipar. Jadi saya pun menghubunginya dan minta bantuannya memperpanjang paspor.

Ia mengiyakan dan kami janjian ketemu di kantor imigrasi Jambi pada hari senin. Sebelumnya saya menyiapkan terlebih dahulu syarat perpanjangan paspor :
1. KTP
2. Kartu Keluarga
3. Akta Lahir
4. Paspor Lama

Semuanya difotokopi satu rangkap dalam ukuran kertas besar (A4). Untuk paspor jangan lupa difotokopi halaman depan dan belakangnya yah. Semua dokumen asli tersebut beserta fotokopiannya harus dibawa.

Saya telah diingatkan datang sepagi mungkin untuk mengambil nomor antrian karena sehari cuma tersedia 50 kuota. Saya bangun sebelum jam 6 pagi, makan pagi, membawa banyak buku bacaan lalu cabut ke lokasi. Setibanya disana tepat pukul 7 pagi dan sudah terlihat beberapa orang menyemuti meja satpam di luar. Oh rupanya di sana mendaftarnya!

Setelah dilihat, alamak! sudah no 14 dan saya kedapatan no 15. Apa boleh buat!
Satpam lalu mencatat nama saya, memberikan formulir yang harus diisi sembari mengecek kelengkapan berkas. Sekitar pukul 7.30 WIB nomor antrian dibagi dan kami dipersilahkan masuk.

Semua ruangan masih tampak kosong. Barulah hampir ketika pukul 8.00 tampak para pegawai mulai berdatangan. Aktivitas dimulai dengan dipanggilnya kami satu persatu berdasar nomor urut.

Sepertinya hari itu saya lagi beruntung, mungkin karena puasa tidak banyak orang yang mendaftar. Selain itu proses pengecekan berlangsung mulus dan hampir setengah nomor urut di atasku belum hadir sehingga saya akhirnya naik ke peringkat 9 untuk pengecekan berkas. Dari pos inilah dilihat betul apakah semua nama sama persis, tanggal lahir hingga alamat di KTP harus sesusai dengan form yang kita isi. Jika ada yang salah dan kurang maka harus diulang / ditambah. Untungnya (lagi-lagi) saya lewat begitu saja yah wong semua berkas asli, lengkap dan diisi dengan baik. Saya pun dihadiahi antrian ke 5 untuk foto. Tak berapa lama menunggu, tiba giliran saya dan dua orang lainnya yang difoto bergantian. Sebelnya, si mas mas mengharuskan semua rambut saya dibelakang kuping dan poni harus dinaikkan which is gak bisa karena poni saya pendek dan jatuh terus, jadi harus diulang terus (sehingga rambut saya jadi berantakan dan hasil foto saya jelek deh!)

Setelah foto, berikutnya masih ada lagi wawancara tentang perihal untuk apa membuat paspor, nama ortu dan lain sebagainya. Setelah sesi tanya jawab kepo tersebut selesai, seluruh dokumen asliku dikembalikan dan dia memberikan tanda terima perintah untuk membayar ke bank BNI dan menjanjikan 3 hari masa kerja untuk penyelesaiannya. Yeay!

Untuk biaya pembuatan paspor, berikut rinciannya :
Biaya paspor : Rp.300.000
Biaya jasa TI Biometrik (sidik jari) : Rp.55.000
Biaya admin bank BNI : Rp.5.000
Total :Rp.360.000

Hari kamis berikutnya pukul 2 siang, saya datang lagi untuk mengambil paspor. Tidak perlu lagi mengambil nomor antrian. Langsung datang dan tampak beberapa folder telah berjajar rapi di meja dan langsung bisa mengambil paspor baru kita. Berhubung di paspor lama saya ada visa Australia dan USA yang berharga, saya pengen dong menyimpan buku lama saya tersebut. Seperti diinstruksikan saya membawa materai 6.000 dan memberikannya ke petugas dan ia pun memberikan paspor lama saya. Yeay!

Paspor Baru dan Lama

Kesimpulan :
Meski masih tampak ada aktivitas calo yang menyerobot antrian dan mendapat tempat khusus, namun kalau pelayanan kantor imigrasi bisa jujur dan profesional, kenapa pula harus menggunakan calo?

Salah satu yang paling saya ingat adalah abang satpamnya yang ramah (bahkan ingat nama saya!) dan sangat membantu dalam proses pengisian form, minjemin pena, bantuin ngoreksi form saya dan ditambah sifatnya yang humoris.

Beberapa petugas lainnya memang wajahnya masih kurang ramah namun kerjanya cukup cepat. Kantor imigrasi Jambi juga telah dilengkapi sistem yang bagus, mulai dari nge-print no antrian, pemanggilan dengan suara dan monitor, sehingga semua alurnya terlihat jelas. Kalaupun bingung, selalu ada satpam yang standby membantu.

Hanya dalam tempo waktu 3 jam saja, proses pembuatan paspor saya kelar. Buku yang saya bawapun tak sempat dibaca. Salut deh dengan pelayanan kantor imigrasi Jambi!

Tips & Trik membuat paspor sendiri
1. Datang sepagi mungkin untuk berebut nomor antrian. 6.30 WIB kalau bisa agar antrian yang pertama. Boleh kok diwakilkan orang lain untuk sekedar mengambil nomor, namun harus datang secepatnya juga yah.
2. Berpakaian rapi dan sopan. Tidak memakai sandal jepit, celana pendek dan kaos oblong. Rata rata orang menggunakan kemeja, celana panjang dan sepatu.
3. Selalu waspada jika nomor dipanggil. Terkadang petugas hanya memanggil max 2 kali, lebih dari itu langsung lanjut ke nomor berikutnya dan jika kelewat ng...harus sabar setelah itu!
4. Bawalah pena untuk mengisi form.
5. Bawa bacaan biar tidak bosan menunggu
6. Lengkapi berkas dengan baik. Pastikan mengisi dengan benar. Jika tidak tahu, bertanyalah. Jika salah, boleh di tipe-X tapi kalau banyak salah ulangi di form baru aja.
7. Bagi wanita bawalah penjepit rambut untuk poni karena sewaktu poto harus menampakkan keseluruhan dahi. Bagi yang berjilbab, gunakan model yang sesimpel mungkin.
8. Ucapkan terima kasih karena pelayanan mereka yang sudah sangat lebih baik dari sebelum belumnya

Ada yang punya pengalaman(menyenangkan) membuat paspor?

Wednesday, June 17, 2015

SKYE Bistro & Lounge Jakarta

Ketika salah satu teman buleku berkunjung untuk pertama kalinya ke Indonesia, aku udah kepikiran sih ingin membawanya melihat pemandangan Jakarta dari atas. Secara aku juga lum pernah!

Jadilah di malam selasa itu, aku dan tiga temanku itu langsung go-show ke salah satu rooftop lounge yang mungkin tertinggi di Jakarta dan nge-hitz tentunya, SKYE.
Setelah dinner di Chili's ( Mexican Restaurant) di Sarinah kami menuju Menara BCA dalam waktu 15 menit saja mengingat hari udah mulai larut dan ini bukan weekend. Yippie!

Setelah dipersilahkan naik ke lantai 56 Menara BCA, si mbak penerima tamu tiba tiba menghadang saya masuk dikarenakan pakaian saya yang tak layak dengan kriteria mereka. Saat itu saya mengenakan sneaker, legging dan baju santai. Jlebbb! Sedangkan ketiga teman pria saya semua lolos inspeksi. Si mbak bilang kalau untuk restauran which is indoor, saya tetap bisa masuk. Tapi kan tapi kan kami mau ke lounge yang outdoor!

Akhirnya win-win solution, temen buleku masuk duluan untuk melihat apakah rooftop bar nya benar benar worth it dan it is! Aku pun pasrah mengalah dan balik ke hotel mengganti pakaian. Untungnya kami menginap di Artotel yang lokasinya masih di Thamin juga. Naik taxi cuma bayar 15rb coba! Malam itu jalanan jakarta memang sedang berbaik hati!.

Buru buru saya mengganti dengan high heels dan dress lalu cabut kembali ke Menara BCA. Ih jadi malu ama satpamnya nih :p

Tapi ya sudah deh biar semua senang dan bisa ngelihat pemandangan jakarta kayak gini :

SKYE Rooftop Bar & Restaurant at Menara BCA Thamrin Jakarta
SKYE Rooftop Lounge at Menara BCA Thamrin Jakarta
Konsep yang diusung oleh SKYE adalah Bistro di siang hari dan Lounge di kala malam hari. Namun rasanya lebih seru aja kalau datang pada malam hari karena tujuannya memang melihat cahaya lampu Jakarta. Lokasi Lounge ada juga yang berada di dalam ruangan, namun kami memilih duduk di luar. Pengennya lagi sih duduk tepat di sofa depan kolam warna biru itu. Namun sudah di-reserved dan ada minimal order yakni IDR 1.200.000.

SKYE Rooftop Bar & Restaurant at Menara BCA Thamrin Jakarta
SKYE Rooftop Lounge at Menara BCA Thamrin Jakarta
Malam ini, aku memesan Bolivian Snow yang direkomendasikan si waitress dan diklaim manis dan untungnya beneran manis. Buat saya lebih mirip ice chocolate dengan topping whipped cream serta taburan Oreo. Slurp!

Dibanding dengan BART - Bar at The Roof Top - di Artotel, suasana di sini lebih nyaman. Tidak ada DJ, tidak ada musik yang bikin jantung berdetak lebih kencang, tidak ada lampu yang menyorot tajam, dan tidak ada nyamuk haha. Pengunjung juga rata rata usia dewasa dan tidak begitu banyak yang merokok.

Pelayanannya memuaskan dan para waitress berbaik hati mau mengambilkan kami foto bersama. Si teman buleku pun puas sekali dan bersyukur kami memilih SKYE. Sepertinya ini jadi malam malam perpisahan terbaik dengannya dan pastinya highlight perjalanannya di Jakarta.

---
SKYE
BCA Tower Lt. 56, Jl. M.H. Thamrin No. 1, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10350, Indonesia
Telp : 021 23586996

Price Range : Starts from IDR 50K
Dress code : No sandal / sneaker. No shorts for male. No T-shirts.

Tuesday, June 16, 2015

BART - Bar at The Roof Top - Artotel Jakarta

Aku lagi duduk duduk cantik di lobby Artotel ketika melihat gerombolan anak anak muda kekinian hilir mudik. Wah kok rame banget? Ada apa sih? Ini kan udah mo tengah malem?

Ketika akan balik ke kamar, di lift saya menjumpai keterangan Level 7 : BART - Bar at The Roof Top.
Aha! darah muda pun bergejolak. Sayangnya temanku hari itu sudah kelelahan sehingga malam minggu ini kami tidak kemana mana. Sampa di kamar dan berusaha tidur, saya mendengar jerit jerit fans bola yang sedang menikmati nontong bareng Liga ntah apa itu. Hingga dini hari terkadang saya masih bisa dengar suara "Goooll!" atau suara suporter bola lainnya. Padahal ini lantai 3!

Akhirnya malam seninnya, dengan dress up seadanya (high heels + dress + clutch), aku dan si teman beranjak ke lantai 7. Kami langsung disambut dan ditanya mau duduk mana.

Dalam gelap malam diterangi bintang bintang tanpa bulan #eeeaaa
Ups ralat!
Dalam gelap yang hanya diterangi lampu lampu disko dari serta hingar bingar musik, sulit menentukan pilihan. Dan sulit juga mau berkomunikasi dengan teman karena harus sedikit menjerit biar gak kalah sama DJ. BART ini sebenarnya konsepnya semi outdoor. Meski ada pilihan duduk di sofa, namun tetep aja berasa di luar ruangan. Terlebih karena ada minimun payment untuk duduk di sofa, kami lebih memilih duduk di luar saja yakni duduk di kursi pojok layaknya standing bar sambil melihat pemandangan ibukota dari atas. Pilihan ini emang paling cocok karena lebih berasa udara segar tanpa asap rokok serta jauh dari si DJ.

BART Artotel Jakarta
BART Artotel Jakarta
Si teman memesan kesukaannya, vodka tonic sedangkan saya memilih "terserah" asalkan manis. Hingga dua minuman diorder nggak satupun mocktailnya yang saya habiskan haha. Makanan yang tersedia hanya snacks jadi disarankan makan kenyang dulu sebelum ke sini yah.

BART Artotel Jakarta
Suasana BART ketika masih kosong

Btw, hasil pengamatan di sana, rata rata pengunjung yang datang adalah anak muda mungkin karena tempat ini lagi ngeheitz banget. Saya dan kawan jadi berasa ketuaan nih!

Dari segi pemandangan, karena lokasinya kurang tinggi, viewnya agak terbatas dan menjadi kurang menarik.
Namun karena ada techno music sepanjang malam dan beberapa orang yang berjoget dan heboh sendiri, kami juga jadi terbawa suasana dan menikmati. Boleh deh bagi yang mau nongkrong nongkrong, toh tempatnya strategis juga kan di pusat kota.

Selesai hangover pukul 1 dini hari sebelum mereka tutup, kami langsung turun ke kamar dan tumbang. Zzzzz... Good Night!

**
BART - Bar at The Roof Top - Artotel
Jalan Sunda No.3, Jakarta Thamrin, 10350, Indonesia (persis di Belakang Sarinah)

Dresscode : tidak ada larangan namun kalau bisa tetap berdandan layaknya mau ke club (no sandal, no short for man, no t-shirt)

Monday, June 15, 2015

Artotel, Boutique Hotel strategis di Thamrin Jakarta

Mungkin ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama.


Di tengah terik Jakarta, dia berdiri mentereng dengan tattonya yang berwarna ungu, penuh dengan gambar cumi cumi dan gambar abstrak lainnya. Katanya itu simbol dari kemacetan dan kesemrawutan ibukota dan dia bangga mendapatkannya dari Darbotz, seorang seniman yang mencintai tantangan hidup di Jakarta.

Lalu aku coba menghampirinya. Berkenalan dengannya. Artotel namanya, sebuah Boutique hotel yang menggabungkan konsep "Art" + "Hotel" ke dalamnya. Tak perlu banyak basa basi, aku dapat melihatnya sendiri dari aneka pilihan furnitur nyeleneh serta design unik sebagai pembuktiannya.

Artotel jakarta
Meski Artotel terbilang munggil, namun arsitektur lobby yang meninggi hingga ke lantai dua tempat galeri lukisan dipajang membuat kesan lega. Berada dekat dengannya, aku bisa mencium wewangian khasnya yang terpancar dari beberapa vas bunga hidup yang baunya bikin kangen ketika pulang / pergi dari hotel.

Lobby dan lantai dua Artotel Jakarta
Selama proses check-in, dia menyambutku cepat dan hangat. Saya bersyukur telah menelponnya jauh jauh hari karena yang PDKT denggannya cukup banyak loh. Dengan total hanya 107 kamar, Beberapa tamu yang datang harus kecewa karena sudah fully booked untuk beberapa hari ke depan.

Selesai proses check-in yang mulus, aku diberikan kunci kamar yang juga berfungsi sebagai kunci lift. Untung saja dapatnya di lantai 3 karena jauh dari lantai 7 dimana BART - Bar at The Roof Top - berada. Soalnya jika tidak, bagi yang susah tidur, bunyi musik hingga tengah malam bisa saja dirasa menggangu.

Kabarnya tiap lantai punya design yang berbeda. Untuk lantai 3, aku dapat melihat sisi Artotel yang lebih simple serta dominasi akan warna hitam dan putih di ruangan. Aku sempat terpana dengan goresan tangan Zaky Arifin, berupa gambar Beruang di atas tempat tidur. Namun begitu melihat dinding sampingnya, aku terkejut karena hanya berupa dinding semen biasa. Selidik punya selidik, si Artotel memang membiarkannya seperti itu, meninggalkan beberapa kesan natural dengan unfinished design. Begitu saya crosscheck dengan kamar teman, ternyata sama saja. Yang membedakan hanya kamar temanku dihias dengan gambar gajah. Namun selebihnya sama. Sama sama ada tulisan "Have a wild dream" di atas gambar.

Kamar tidur studio 03 Artotel Jakarta
Paginya, aku turun ke bawah dengan perut keroncongan. Waktu belum menunjukkan jam 6 pagi namun Artotel udah sigap melayani beberapa tamu. Berada di Restauran RoCA (Restaurant of Contemporary Art), aku bingung harus mulai darimana. Semua stand makanan / minuman serasa memanggil manggil. Siomay (ayam & udang), hashbrown, sosis ayam, bacon-nya tidak aku lewatkan. Oh satu lagi yang sayang dilewatkan adalah kehadiran mbok jamu berpakaian kebaya modern. Dengan gendongan kain, dia menawarkan pengunjung berbagai ramuan yang mempermudah hidup.
"Ini neng beras kencur untuk menambah nafsu makan."
Duh si mbok, saya emang kurus namun coba deh lihat aku sewaktu breakfast.
"Kalau ini jahe, buat masuk angin."
Ah si mbok, tahu aja AC kamar dinginnya mengigit.
Namun, akhirnya aku putuskan hanya minum one shot madu murni saja.

Seduh kopi sambil melihat lukisan abstrak
Bagi yang harus memulai harinya dengan racun rokok, bisa duduk di sebelah luar Restoran RoCA. Namun tidak perlu merasa terpojokkan, karena di luar design nya pun tetap ciamik.

Smoking Area di restoran Artotel Jakarta
Selesai mengisi perut berkali kali, aku dan kawanku langsung meminjam sepeda hotel (Rp.50.000 / 4 jam) dan mengayuhnya ke Car Free Day. Lokasi Artotel yang persis di tengah kota sungguh sangat nyaman!


Di hari hari terakhir bersama Artotel, badanku mulai mendambakan sensasi pijitan yang melonggarkan tulang tulang. Aku lalu menghubungi resepsionis untuk booking spa & massages.
"Baik ibu, therapist kami akan segera menuju kamar anda." jawab resepsionis.
15 menit kemudian...
Datanglah mbak mbak ayu berseragam pink dengan perlengkapannya. Karena keterbatasan ruang, spa & massagenya dilakukan di kamar masing masing. Si mbak ayu pun menggelar kain batik di atas tempat tidur, dan sesi Traditional Massage selama 60 menit pun berlangsung. I'm in heaven!

***
Baru kali ini saya mengenal sebuah hotel dengan begitu detail. Kalau biasanya di hotel cuma buat bobo dan WC, namun di sini beda. Hampir semua fasilitas aku coba. I've stayed for 5 days and it really feels Home. Selain itu hotel ini lagi nge-hitz di kalangan anak muda atau sosialita Jakarta. Satu satunya yang bisa saya keluhkan adalah hotel ini minus kolam renang dan di RoCA restaurant serta BART seringkali saya digigiti nyamuk. Other than that, you'll definitely see me here again!

Artotel Jakarta
Jalan Sunda No.3, Jakarta Thamrin, 10350, Indonesia (persis di Belakang Sarinah)
Telp : 021-31925888
Rate : Mulai dari Rp.800.000,- ( termasuk Breakfast)

Tuesday, June 2, 2015

Gentala Arasy Icon Baru Jambi

Provinsi Jambi sempat punya beberapa icon yang melekat padanya. Sebut saja candi muara jambi, harimau sumatera yang terus terusan diburu hingga suku anak dalam yang telah diangkat kisah hidupnya dalam sebuah film layar lebar.

Namun, icon icon tersebut sayangnya berasal dari luar kota Jambi. Yah lebih banyak berada di pelosok kabupaten atau dalam hutan. Sebagai seorang anak jambi pun saya mengaku malu belum pernah bertemu suku anak dalam. Kalau melihat harimau sumatera yang dikurung sih masih ada di kebun binatang.

Jikalau ada wisatawan / teman bertandang ke kota jambi sendiri, lebih sering saya rekomendasikan untuk wisata kuliner. Murah, enak, sehat dan ada dimana mana.

Namun baru baru ini, pemerintah kota Jambi mengeluarkan terobosan mutakhir yakni sebuah icon baru yakni Jembatan pedestrian dan Museum Gentala Arasy pada 28 Maret 2015. Tidak tanggung tanggung Wapres Jusuf Kalla lah yang meresmikan landmark baru kota Jambi ini.

Jembatan Gentala Arasy yang bentuknya meliuk liuk seperti huruf S di atas sungai Batanghari ini hanya dikhususkan bagi pejalan kaki. Jadi tidak perlu takut kena serempet motor. Jembatan yang menghubungkan kota jambi dengan seberang jambi ini tidak hanya menjadi tempat wisata tetapi juga solusi bagi masyarakat di dua tempat ini untuk mencapai ke daerah seberangnya. Sebelum ada jembatan ini, mereka harus menaiki ketek (kapal kayu kecil dengan mesin yang bunyinya tek tek tek).

Panjang jembatan yang mencapai 503 meter dengan lebar 4,5 meter ini lumayanlah buat olahraga jalan kaki. Sayangnya jembatan yang bertahun tahun ditunggu hingga menelan dana 88,7 miliar (WOW!) ini malah tidak menyediakan tong sampah sehingga kadang kala tampak banyak sampah berserakan. Yang lebih parah banyak juga pengunjung yang langsung membuang sampah ke sungai batanghari yang telah coklat itu. Ckckkc!
Jembatan Gentala Arsy jambi
Nah di ujung jembatan ini, berdirilah bangunan setinggi 80 meter yang disebut juga Menara Gentala Arasy yang tidak lain adalah museum yang mempertontonkan sejarah serta barang barang peninggalan dari masa lampau. Luasnya tidak besar, cukup 15 menit untuk mengitarinya. Yang menarik perhatian saya justru adanya rombongan SD yang sedang tur wisata dan menonton film film khas jambi seperti suku anak dalam atau tentang perkembangan Islam di kota Jambi di bioskop mini yang terletak di lantai paling bawah.
Menara sekaligus Museum Gentala Arasy
Sayangnya pihak manajemen belum membuat jadwal film dan kapan tayangnya sehingga jika ingin menonton lebih baik menanyakan dulu jauh jauh hari atau mem-bookingnya untuk acara.

Di luar menara ini, terdapat tempat duduk yang telah diberi perlindungan agar tidak terlalu panas. Cocoklah bagi anak muda yang ingin nongkrong sore sore sambil menyeruput es tebu dan jagung bakar. Bagi yang membawa anak anak, tempat ini juga bikin betah karena ada penyewaan skuter dengan harga 15 menit / Rp.5.000. Murah yah? Pokoknya sesuai kantong rakyat banget deh.

Ps : Jembatan dan museum ini tidak dikenakan biaya. Kunjungilah selagi fasilitas masih memadai dan gratis.Tapi sewaktu libur nasional, saya berkunjung ke museumnya malahan tutup. Ealah! bukannya justru karena lagi libur yah kita baru sempat ke museum?

Lokasi :
Di depan Rumah Dinas Gubernur Jambi / Di samping mall WTC / lebih dikenal juga kawasan Ancol :)

Sunday, May 24, 2015

Lomba Blog Terbang Gratis bersama Traveloka

Mari berandai andai...

Jika aku dapat tiket pesawat gratis gimana yah?
Hm..pengennya dapat tiket pesawat international gratis jadi bisa balik ke Australia atau Amerika Serikat.
Tapi kalo dikasih tiket gratis domestik, mau juga dong. Bisa buat "pelarian" sejenak ke mana gitu. Pengennya sih ke terbang ke tempat pacar Sahabat, curhat sampai pagi, diiringi nanggis nanggis gitu terus berakhir dengan ketawa ketiwi main gaplek. Eh rasanya udah lama banget nggak mengulang masa muda itu yah?

Seiring menjadi tua waktu, jarak dan kesibukan saya dan sahabat seperti terpecah pecah. Giliran datang ke kotanya, saya sudah ada agenda acara atau mungkin dia yang sibuk. Pengennya sih mampir tiap bulan, tapi duit dari mana?

Eh eh rupanya ada yang mendengar curcolku. Doa itu terkabul dalam bentuk lomba blog yang bisa diikuti kawan kawan juga loh yaitu lomba Blog Traveloka dengan tema "Andai bisa terbang gratis, aku akan menemuinya".

Ish temanya kok sok romantis gitu yah? Oh mungkin diperuntukkan bagi anda yang lagi LDR dan mau menjumpai si doi dan melabraknya yang lagi selingkuh. #ups
Atau bagi yang mau mudik ke kampung halaman, cocok banget nih jadi nggak perlu pusing dengan tiket pesawat yang kerjanya merangkak tiap hari.
Atau bagi yang setelah berlebaran mau terbang ke Jakarta gratis dan mencoba mengadu nasib?
Kan biasanya banyak tuh yang dari kampung nebeng ikut sodara yang sukses ke ibukota.

Yah apapun itu motif anda, karena saya baik hati saya kasih tahu cara gratisannya!

Ketentuan Lomba :
Hadiah:
  • 20 tiket PP Citilink kelas ekonomi untuk 10 orang pemenang. Bebas pilih rute langsung domestik.
Waktu pelaksanaan:
  • Masa pelaksanaan kontes: 25 Mei – 8 Juni 2015.
  • Batas waktu kirim artikel: Senin, 8 Juni 2015 pukul 18:00 WIB.
  • Pengumuman pemenang: Rabu, 10 Juni 2015 di Facebook dan Twitter Traveloka.
Cara mengikuti kontes:
  • Follow akun Twitter @Traveloka dan like Facebook Page Traveloka.
  • Buat artikel dengan tema “Andai bisa terbang gratis, aku akan menemuinya” sesuai ketentuan artikel.
  • Artikel ditulis pada media publik di internet, seperti: WordPress, Blogspot, Forum, Kompasiana, dll.
  • Link (URL) artikel dikirim melalui formulir online di http://goo.gl/forms/GQxNhlLAqO
Ketentuan artikel:
  • Memiliki minimal 400 kata.
  • Artikel harus berisi:
    • Siapa orang yang ingin kamu temui dan alasan ketemu dengannya.
    • Aktivitas apa yang ingin dilakukan dengannya.
    • Itinerary perjalanan memakai pesawat Citilink.
    • Screenshot halaman “Review Pemesanan” tiket Citilink dan hotel yang mau dipesan dari Traveloka App.
    • Kesan positif menggunakan Traveloka App.
  • Contoh artikel bisa dilihat di Blog Traveloka.
Kualifikasi pemenang:
  • 10 pemenang akan dipilih berdasarkan keunikan cerita, kreatifitas tulisan dan sesuai ketentuan artikel.
Tapi kalo lagi nggak mood nulis gimana?
Gampang! Traveloka juga lagi bagi bagi tiket Citilink gratis, cukup dengan download Traveloka App. Promo ini berlangsung mulai 19 mei - 26 juni 2015 dan diundi tiap jumat yah. Info lengkap di sini yah.

Terbang gratis yuk! View dari pesawat begini ngangenin yah!
Tunggu apa lagi? Ada yang mau menang tiket gratis lalu nemuiin saya nggak? #eh 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...