Sunday, August 17, 2014

Tekwan Terenak dan Termurah di Jambi

Orang Indonesia mengenal pempek dan kawan kawannya (baca: tekwan, pempek selam, model, pempek mie dsb) sebagai makanan khas Palembang. Sebagai orang Jambi, memang saya akui pempek berasal dari kota tetangga, namun di Jambi pun pempek sudah masuk dalam makanan pokok. Pagi makan tekwan, siang makan kapal selam, sore nyemil pempek panggang, malamnya baru deh ganti makanan biar gak bosan. Tak heran jika di bandara, orang berduyun duyun menenteng makanan ini sebagai oleh oleh favorit.

Di Jambi, alkisah ada mamang (panggilan sayang buat abang penjual) tekwan bernama Aman yang saban hari laris manis. Jualan jam 6.15 pagi hingga tengah hari sudah dipastikan tekwannya habis. Rata rata tiap harinya menghabiskan 200 mangkok tekwan. Mamang yang sudah jualan sebelum saya lahir ini sehari harinya (kecuali Minggu dan hari besar) berjualan di pasar Hongkong. Lalu ketika sudah jam 8 dia pindah ke depan SD Xaverius 2 hingga tekwannya habis.

Saya suka bilang sama mamangnya kalau anak anak SD Xaverius 2 itu pinter pinter karena dari kecil sudah dicekoki ikan asli dari tekwannya si mamang. Si mamang cuma terkekeh kekeh aja.

Mamang tekwan kesayangan

Mamang tekwan ini asalnya dari bandung tetapi ketika merantau di Jambi, dia ikut bantu jualan tekwan terlebih dahulu hingga akhirnya bisa membuat sendiri dan hasilnya sangat enak.

Tekwan mamang ini sangat simple. Seporsi tekwan diisi dengan tekwan, soun, daun bawang, bawang goreng, timun, kecap manis, kecap asin, cuka dan kuah. Namun khusus saya, saya maunya tekwannya dicampur dengan potongan model (pempek bulat isi telur kecil kecil), pake mi putih dan kuning, hanya pakai kecap asin dan tanpa MSG. Saya suka menggoda si mamang untuk segera buka toko pempek karena fansnya pun sudah banyak. Tapi mamang ini menolak, dia bilang lebih enak begini. Biar dapat dikit tidak masalah yang penting asap di dapur tetap mengepul.

"Yah buat apa dapat duit banyak, tapi kalau badan capek sakit sakitan, anak tidak terurus. Sama saja" begitu alasannya.

Zaman sekarang, layaknya cari pacar, mau yang ganteng/cantik tapi juga harus pinter dan kalau bisa mapan pula, kan susah yah.Ntah bisa nemu dimana pula? Begitu juga dengan cari tekwan. Untung ada si mamang, sudah murah, enak, orangnya baik (baca: bisa diutangin) mamangnya lucu pula. Nggak ada alasan buat menolak tekwan ini deh :


Tekwan

Sebenarnya mamangnya juga menjual model dan pempek mie tapi rata rata yang dibeli adalah tekwan.


Selamat mencoba. AWAS! resiko ketagihan ditanggung masing masing.

Harga 1 piring : Rp.8.000 (kalau saya selalu beli versi Rp.10.000)

Wednesday, August 13, 2014

Tips Sukses Mengirim Tulisan ke Media Cetak

Sebagai calon penulis, tidak ada yang lebih membanggakan melihat hasil karya saya dibaca oleh orang banyak. Syukur syukur mereka suka dan mendapatkan manfaat, kalau tidak yah lumayanlah buat ngisi waktu mereka.

Walaupun melalui media blog, siapa pun saat ini dapat mengklaim dirinya menjadi penulis. Hanya perlu menuangkan isi kepala dalam tulisan, masukkan beberapa foto, sebarluaskan di social media dan resmilah kita penulis / blogger.

Tetapi kenikmatan ini tentu lain jika mendapati tulisan kita dipampang di media cetak baik itu koran daerah, hingga majalah terbitan nasional. Rasa capek njelimet serta perjuangan menembuskan tulisan kita terbayar lunas sudah ketika melihat foto dan nama kita. Saya pribadi lebih tertarik dengan media cetak dibanding online. Bau bau kertas, serta nikmat membuka halaman demi halaman itu rasanya tak tergantikan. Apalagi media cetak saya rasa dapat lebih menjangkau para pembaca. Afdol lah pokoknya!

Kontributor Majalah


Selain itu, dengan menyebarluaskan nama kita di media cetak, juga memberikan nilai + dari segi portofolio. Bayangkan setiap hari para editor media cetak pasti menerima puluhan jika tidak ratusan naskah, dan mereka hanya dapat memilih beberapa untuk diterbitkan, dan bagi saya itu sudah sesuatu banget. Artinya naskah kita memiliki poin lebih sehingga dapat memenangkan kompetisi ini. Tapi bukan berarti juga kalau ga dicetak artinya, naskah kita jelak. Harus dipahami bahwa sistem yang ada di suatu media sangat berbeda beda. Mungkin saja kebetulan faktor keberuntungan. Misalnya karena majalah yang kita tuju sedang mengencarkan promosi wisata di ASEAN, maka sebagus apapun tulisan kita backpackingan sambil ngesot dan gak pake duit ke Eropa bakalan ditolak. Sayangnya hal ini yang mungkin para penggiat naskah tersebut tidak ketahui hingga mereka merasa down atau merasa tulisan mereka tak layak.*cup cup*

Oleh karena itu sebelum merasa down dan merasa tulisan kita tak layak terbit, cek dahulu beberapa tips ini sebelum anda menklik tombol Kirim :
1. Cari Media Cetak yang anda idam idamkan
Ada baiknya membuat database media cetak yang ingin anda sasar beserta kontak info serta tata cara pengiriman yang mereka inginkan. Jika tak punya, contek saja daftar majalah yang mau memuatnya di sini. Sedapat mungkin mematuhi permintaan mereka supaya naskah kita tidak terkena eliminasi. Lihat di sini daftar media cetak tersebut. Ada baiknya jika masih baru, pertama tama memasukkannya ke media yang tidak terlalu ngetop karena tidak banyak saingan dan mungkin mereka belum punya standard yang tinggi. Tetapi jika anda yakin artikel anda sangat mantap dan layak ditampilkan di National Geographic Traveller, silahkan.

2. [Optional] Wajib tahu seluk beluk media yang ingin kita sasar dengan cara membeli salah satu produk mereka. Dengan begitu kita bisa mengira ngira jenis tulisan apa yang cocok dikirimkan ke mereka dan rubrik apa saja yang tersedia. Bisa sih mencari info ini lewat website/socmed mereka, tetapi ada beberapa media yang tak punya websitenya atau hanya menyediakan info tersebut di edisi cetaknya.. Mana tau ada kuis / lomba dari mereka yang dapat kita ikuti dan syukur syukur kalau menang bisa membuat kita selangkah lebih maju. Jika tak punya uang, mampir saja ke toko buku yang rela kita tongkrongi berjam jam buat baca gratisam. <-- pengalaman sendiri.

3. Mulailah menulis.
Untuk awal mulanya, saya sarankan memfokuskan menulis untuk satu media cetak terlebih dahulu agar gaya bahasa serta informasi untuk pembacanya sesuai dengan media tersebut. Misalnya jika saya menulis untuk  MyTrip Magazine tentu akan berbeda jika saya menulis untuk koran Kompas.

4. Tulisan yang menarik.
Tulisan menarik tentu saja sangat subjektif. Tergantung yang bacanya. Nah lebih bagus lagi kalau kita tahu siapa editor yang akan membaca dan menyeleksi tulisan kita. Dengan begini kita tahu selera mereka. Misalnya untuk tulisan perjalanan apakah mereka suka yang "One Day Trip" "Tips Perjalanan" atau "Travel Journals". Selain itu, tidak perlu minder jika tulisan perjalanan kita hanya berkisar dalam negeri. Sejatinya masih banyak sudut sudut negeri ini yang belum terjamah. Kita cuma harus panda pandai mengangkat sebuah tema yang memang jarang diberitakan. Jika pun ingin menulis tentang Bali lagi, coba research dulu artikel seperti apa yang pernah dimuat, dan apa yang belum sehingga bisa jadi ide artikel anda berikutnya juga.

5. Tulisan sesuai kebutuhan
Lebaran, Natal, Imlek adalah salah satu perayaan khusus di Indonesia dan media cetak pastinya akan menampilkan sedikit banyak tentang ini. Jika anda dapat menulis tentang tradisi mudik di kota anda atau perayaan khusus natal, maka anda berpeluang. Hal ini tentunya harus dipikirkan baik baik beberapa bulan sebelumnya dan minimal mengirimkannya sebulan sebelum hari H tersebut.

5. Masukkan foto yang dapat bikin penasaran.
Tak punya foto bagus? hanya bisa menjepret dengan kamera saku? Nggak terlalu bermasalah. Memang dengan keterbatasan ini tentu anda tak bisa mengirimkannya ke rubrik khusus yang menonjolkan fotografi tetapi selama anda punya cerita menarik, masalah foto bisa teratasi.  Beberapa tulisan saya kerap menggunakan gambar yang dibeli dari website berbayar seperti Shutterstock. Anda bisa mengirimkan 3-4 foto dengan low resolution terlebih dahulu agar tidak memberatkan email.

6. Jangan masukkan ke dalam blog terlebih dahulu.
Hal ini dimasukkan untuk menjaga orisinalitas tulisan. Jika terlanjur masukkan kembali ke draft. Biasanya media cetak tentu lebih menyukai tulisan yang fresh dan belum banyak orang ketahui. Tentu mereka tak mau bersaing dengan tulisan tersebut dengan blog anda. Bisa saja menampilkan destinasi yang sama tetapi dengan konten dan angle yang berbeda. Misalnya anda jalan jalan ke Jambi, naskah tulisan yang anda kirim ke media adalah tentang Komplek Percandian Muara Jambi. Lalu boleh kok di blog anda membahas tentang candi terluas se Asia tenggara ini dari segi eksistensinya bagi umat budha.

7. Networking
Jika anda punya kenalan dengan staf didalamnya, cobalah tanya tanya tips seputar memasukkan artikel. Syukur syukur dia mau memberikan kontak langsung ke orang yang bertanggung jawab untuk menerbitkan cerita anda. Dari pengalaman saya, terkadang saya ikut pemilihan cover atau acara2 yang diselenggarakan oleh suatu majalah agar punya hidden agenda biar kenal staf stafnya. Setelah itu pandai pandailah anda mempromosikan blog dan kemampuan anda. Semoga gayung bersambut!


Hingga hari ini saya pun masih seperti anda, terus mencoba men-gol-kan hasil karya saya ke sejumlah media cetak. Terkadang proses yang dibutuhkan teramat lama, bisa jadi kirimnya hari ini dan baru akan terbit tahun depan, belum lagi termasuk revisi naskah hingga dianggap sempurna.

It's hard but its worth it! Ayo mari kita gempur media media tersebut dengan cerita cerita kita yang menginspirasi. SEMANGAT!

Ada yang punya tips agar tulisan kita sukses diterbitkan? Share yah!

Friday, August 8, 2014

Daftar Majalah yang menerima Tulisan Perjalanan

Menerbitkan tulisan ke media cetak mempunyai banyak keuntungan antara lain membesarkan nama kita sebagai penulis, mempromosikan hasil karya, dan kemungkinan yang asik ialah mendapatkan honor.

Kontributor Majalah

Sayangnya tidak semua media cetak menerima karya dari luar seperti National Geographic Traveller biasanya menggunakan tim mereka sendiri untuk menulis berita dan hanya menyisakan seruangan kecil untuk kita meletakkkan tulisan. Tetapi tidak perlu berkecil hati karena masih banyak di luar sana yang butuh naskah perjalanan kita yang menginspirasi. Berikut daftarnya :


1. National Geographic Traveller
NG Traveller memang terkenal akan cerita petualangannya yang unik dan menginspirasi. Mereka juga terkenal susah untuk dimasuki artikel dari pihak luar. Untungnya sekarang ada satu halaman khusus yang dikhususkan bagi pembaca untuk menampung cerita pendek perjalanan dalam rubrik Trip Kita. Cara pengiriman :
Subjek : Trip Kita
Foto : 3-4 foto
Email : traveler@nationalgeographic.co.id

2. Panorama
Untuk rubrik "On The Road" di setiap edisi majalah ini menyajikan 6 destinasi, yaitu 2 destinasi Indonesia, 2 destinasi regional (Asia-Pasifik), dan 2 destinasi internasional (benua selain Asia & Australia) dan dapat dikirimkan ke Email : redaksi@panoramapublication.com 

3.CLEO Magazine
Email : cleoindonesia.redaksi@feminagroup.com

4. CHIC Magazine
Email : chic@gramedia-majalah.com

5. Mytrip Magazine
Email : mytrip@media.femalindo.com
 
6. Cosmopolitan
Email : redaksi@cosmopolitan.co.id

7. Majalah Tamasya
Majalah TAMASYA menerima tulisan untuk rubrik "Around the Globe" dengan negara yang bukan tujuan mainstream para turis. Tulisan dalam format judul, lead, dan isi tulisan lebih kepada jurnal perjalanan, disertai informasi penting seputar how to get there, estimasi biaya tiket masuk, tempat penginapan, kalau ada kuliner menarik bisa dimasukkan, plus informasi-informasi menarik lainnya. Tulisan maksimal 1.500 kata - Disertai 7-10 foto perjalanan (low resolution). Tulisan dan foto bisa dikirim ke redaksi@majalah-tamasya.com

8. Gogirl
Untuk rubrik "Jalan Jalam" kirimkan ke email : yenni@gogirlmagazine.com

9. Kartini
Untuk rubrik "Wisata" kirimkan ke email : redaksi_kartini@yahoo.com disertai identitas dan nomor rekening.

10. Padmagz
Beberapa rubrik yang bisa diisi adalah :
Travelnote : Buat padmakers yang pengen selfie tulisan perjalanan nge-trip kamu.
Destinationtaste : padmakers yang doyan moto dulu sebelum makan.
Destinationpoint : padmakers yang suka nginep-nginep di di luar rumah.
Communitrip/Sociotalk/Pleasurestyle : yang punya komunitas travelling, photography atau sosial dapat dikontak untuk diliput lho.
Arountheworld : Yang ini buat padmakers yang tajir ataupun suka travelling backpacker keliling dunia.

Segera kirim di email : redaksi@padmagz.com. 


11. Femina
Berada di bawah rubrik "Oleh Oleh", berikut tata cara pengiriman naskah perjalanan ke majalah ini
Melalui Email:
Email : kontak@femina.co.id  dengan Subject : [Rubrik Feature]
Atau melalui Pos :
Majalah Femina
Alamat: Gedung Femina, Lantai 5, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. B 32 – 33, Kuningan, Jakarta 12910
Subject di pojok kiri atas amplop : [Rubrik Feature}
Petunjuk :
Panjang tulisan 4-5 halaman ketik, font Arial 12, single space (sekitar 1500 kata). Cara penulisan bisa berupa uraian panjang yang terbagi dalam 2-3 subjudul atau dalam boks-boks kecil yang berisi 2-3 paragraf (maksimal 5-6 boks). Boks ini memudahkan bila objek wisata yang dikunjungi cukup banyak dan tidak memiliki tema yang sama. Tulisan juga harus dilengkapi minimal 5 tip praktis dan berguna. Misalnya tempat-tempat belanja menarik, kuliner, biaya perjalanan, biaya akomodasi di kota/ negara yang dikunjungi, transportasi di dalam kota dan transportasi menuju ke tempat tersebut, souvenir dan oleh-oleh khas. Artikel yang masuk akan diseleksi oleh editor. Pengirim akan dikabari apakah tulisannya bisa dimuat di Femina dalam jangka waktu maksimal 3 bulan.

12. Female Magazine
Email : female.indonesia@media.femalindo.com

PS: Hanya untuk majalah cetak terbitan Bahasa Indonesia

Sebelum meng-klik tombol kirim jangan lupa sempatkan menulis kata pengantar singkat mengapa artikelmu layak dicetak dan profil singkat serta jika ada sebutkan artikel artikelmu sebelumnya yang telah tayang di media cetak lainnya.

List di atas berdasar pada pengalaman sendiri, langsung bertanya pada media yang bersangkutan, serta terpampang langsung di media cetak tersebut sehingga dapat saya jamin keakuratannya.

Kalau ada pembaca mengetahui info media cetak lainnya, share yak!

Friday, August 1, 2014

5 Destinasi Wisata Terpopuler di Amerika Serikat

Ketika merencanakan liburan di Amerika Serikat, adakalanya saya pusing. Seperti halnya Indonesia, negara ini begitu luas dan memiliki daya tarik wisata yang berbeda beda tiap statenya. Wisata alam, budaya, sejarah, hingga wisata khas metropolitan semuanya ada.

Saya pribadi tak mengejar destinasi wisata favorit ataupun melihat tren wisata apa yang sedang digandrungi. Contohnya ketika teman teman saya jalan jalan ke Chicago yang masuk dalam jajaran 3 kota bergengsi, saya nggak mupeng tuh. Begitu juga ketika yang lain pada ngunjungi Mickey Mouse di rumahnya di Disneyland, saya biasa biasa aja. Mungkin kalau ada yang pergi liat Aurora di Alaska, baru saya sirik tanda tak mampu.

Biasanya pertimbangan saya memilih sebuah destinasi tergantung dengan apa yang ingin saya lihat/lakukan, budget, ketersediaan publik transportasi, akomodasi, dan destinasi yang memadai dan ramah bagi wisatawan kantong cekak seperti saya.

Pas ngelihat rating atraksi wisata yang populer di Amerika Serikat berdasarkan majalah Travel+Leisure di tahun 2012, ternyata top 5 tempat atraksi yang paling banyak menyedot wisatawannya [kebetulan] telah saya kunjungi. Beberapa atraksi wisata sebenarnya awalnya ditujukan untuk kepentingan publik yang kemudian lambat laun pamornya meningkat dan akhirnya masuk dalam "Places to visit" selama di Negeri Paman Sam. Apa saja itu? mari kita lihat di bawah ini :

1. Times square, New York City
Pengunjung tahunan : 41,900,000

Times Square New York City
Times Square New York City yang dibangun pada tahun 1992 memang bertujuan untuk dijadikan icon pusat bisnis dan entertainment. Di sinilah manusia tumpah ruah bercampur aduk antara penduduk lokal dalam kesibukannya bekerja hingga wisatawan dari segala penjuru dunia yang tengelam dalam euforia metropolitan. Neon neon raksasa dan video iklan menerangi kawasan yang besarnya kurang lebih hanya 5 blok ini tanpa kenal waktu. Puncak kepadatannya adalah ketika malam tahun baru. Walaupun digempur suhu yang bisa anjlok hingga di bawah nol derajat, tetapi orang orang tetap bersabar dan berdesakan menyambut pergantian tahun sambil diiringi musik dari penyanyi beken dan tiupan terompet yang memekakkan telinga.

Saya sebagai gadis kampung rasanya yah kok tidak cocok lama lama di Times Square. Banyaknya manusia yang minim interaksi berjalan cepat dan kaku seperti dikejar kejar waktu. Harga harga apapun disini menjadi  namun tetap saja tak mengurungkan niat para pembeli seperti halnya dapat dilihat panjangnya antrian penjualan tiket diskon untuk menonton broadway. Tak mau kalah, problematika sosial pun dapat dilihat kentara dari para pengemis yang menunggu belas kasihan pengunjung yang lewat. Para pedagang hotdog, koran, souvenir dalam gerobaknya berlomba mengais dolar bersama para street performance.  Itulah Times Square.

2.  Central Park, New York City
Pengunjung Tahunan : 40,000,000

Central Park View
Central Park merupakan oase untuk melarikan diri dari hingar bingar Times Square. Dengan luas 341 hektar, taman kota yang dibuka sepanjang tahun ini telah ada sejak 160 tahun silam ini menjadi tempat favorit masyarakatn untuk berolahraga sambil menikmati alam hijau yang masih segar. Apalagi letaknya yang berada di tengah pemukiman elit - Manhattan- menjadikannya tempat singah sambil menghilangkan penat atau bisa juga mampir ke Central Park Zoo untuk memberi makan singa laut dan pinguin di dalamnya.

3. Union Station, Washington, D.C
Pengunjung Tahunan  : 36,500,000

Union Station
Union Station merupakan pusat transportasi penghubung di Washington ,D.C. Di sini tidak hanya menyediakan subway, tetapi Union Station juga terhubung dengan pangkalan bus seperti Grayhound atau Megabus di lantai paling atasnya. Lalu ada juga di lantar dasarnya terdapat terminal kereta api AMTRAK. Tak heran kan kenapa tempat ini cukup padat?

Sebagai ibukota dari Amerika Serikat, DC lebih ramah tidak seperti New York. Dibandingkan berjubelan di subway bawah tanah New York yang terkadang berbau khas seperti pesing ataupun ganja. Di Union Statiom, untungnya hal ini tidak tampak. Kebersihannya patut diacungi jempol ditambah dengan arsitektur Union Station yang cukup unik. berasa di film ih!

4. Las Vegas Strip, Las Vegas - Nevada
Pengunjung Tahunan : 29,500,000

Las Vegas Sign
Las Vegas yang sering muncul di TV itu adalah sebuah kawasan yang bernama Las Vegas Strip yang berupa jajaran hotel hotel yang dilengkapi kasinonya. Semakin berdosa kota ini, makin banyak pula pengunjung yang ingin ke sini. Untuk menjelajahi Las Vegas Strip, dibutuhkan satu hari penuh untuk menyusuri semua hotel sambil melihat replika Piramida, patung Liberty, menara Eifel atau menaiki Gondola di Venetian.

5. Grand Central Terminal, New York City
Pengunjung Tahunan : 21,600,000

Grand Central Terminal - New York City
Beribu ribu orang tiap harinya mengunjungi Grand Central Terminal New York City yang dibuka pada tahun 1871 tetapi bukan untuk naik subway melainkan melihat kemegahan lobbynya yang sering jadi setting film fiulm Hollywood. Grand Central Terminal sekarang juga telah berekspansi menjadi pusat retail dan dining. Bagi yang ingin tahu lebih lanjut mengenai bangunan bersejarah ini dapat mendaftar ikut tur gratisnya.

Tuesday, July 29, 2014

Wisata Mistis di Buffalo - USA

Salah satu ke-khas-an Indonesia adalah ragam budayanya. By saying that, termasuk juga diantaranya mitos mitos dan cerita cerita misteri yang ada di pelosok Nusantara.

Beruntungnya, sejauh ini (dan semoga selamanya), saya tidak pernah punya pengalaman berinteraksi dengan dunia lain. Memang rasa parno saya biasanya muncul di Indonesia ketika melihat hutan rimba sumatera atau membayangkan berkemah di pedalaman jawa atau pelosok Nusantara lainnya. Mungkin karena saya tumbuh dengan banyaknya cerita cerita misteri yang lebih heboh daripada gosip selebritis. Dulu pun saya juga suka baca komik petruk gareng karya Tatang S yang ceritanya kurang lebih ketemu cewek cantik sewaktu magrib, tetapi setelah mau dikencani eh berubah wujud. Terus ada juga majalah paranormal dimana tokoh utamanya yang dikerjaiin mahkluk lain ntah itu karena sembarangan bertindak/bertutur kata, dosa atau apapun itu sebabnya.

Begitulah, sepertinya setiap sudut di negeri ini bisa membuat bulu kudukku berdiri.


Spring break 2014, saya jalan jalan di Buffalo, salah satu kota di New York State - USA. Buffalo awalnya merupakan salah satu kota industri yang pertama di Amerika Serikat namun akhirnya tumbang pada krisis ekonomi yang terjadi di tahun 2000an sehingga menyebabkan banyak pabrik gulung tikar dan ditingalkan begitu saja. Orang orang yang sebelumnya memanen dolar juga harus hengkang dari rumah besarnya. Sayang hingga sekarang rumah besar bak mansion itu tidak laku laku juga walaupun telah dijual super murah.

Satu satunya alasan saya dan teman saya ke Dead City ini karena merupakan akses terdekat menuju air terjun Niagara. Sedikit saya tahu bahwasanya Buffalo juga termasuk haunted town.

Hari pertama, teman saya yang orang lokal Buffalo menawarkan untuk memandu dan mengantarkan saya dan teman teman ke kuburan. Hari masih siang dan putih salju yang cantik menghiasi kota tetapi tentu saja pikiran negatif tak bisa dihindari membuatku mengatakan "No,thanks."

Tetapi karena kedua teman saya yang lain ngotot ingin pergi kesana, maka sebagai manusia yang menjunjung demokrasi, terpaksalah saya tak berkutik ketika mobil kami arahkan menuju kuburan Forest Lawn Cemetry.

Buang dulu sejenak pikiran akan kuburan ala ala Indonesia. Begitu sampai di gerbang kuburan yang megah serta berwarna putih ini, saya baru ngeh kenapa kuburan ini justru masuk dalam satu satu tempat wisata yang layak dikunjungi.

Forest Lawn Cemetery adalah kuburan yang megah dan terawat sangat baik. Jauh dari kesan kotor. Kalau mistis...hm yah namanya juga ke tempat orang yang telah wafat, tentu saya pun jadi mawas diri tidak berani jauh jauh dari teman teman.

Berlokasi di lahan seluas hampir 109 hektar dan menampung lebih dari 160.000 orang, Forest Lawn Cemetery memang dirancang tidak hanya untuk tempat menguburkan mayat tetapi mempunyai gabungan nilai seni dan keindahan. Tak pelak berada di sini, walaupun semriwing dingin, saya berasa di taman..surga. Ada aliran sungai kecil yang membelah kuburan serta kontur tanah yang sedikit berbukit bukit. Orang yang dimakamkan di sini pun turut menjaga keindahan kuburan dengan membangun nisan yang indah dan bahkan beberapa tampak seperti rumah atau tugu.
Forest Lawn Cemetery

Berdasarkan moto mereka, “One of the most lovely resting places of the dead in the country.”, tak heran jika di sini juga ada makam Presiden USA ke 13, Millard Fillmore dan juga beberapa walikota Buffalo.


Kuburan Presiden USA ke 13, Millard Fillmore
Memang sih kuburannya terkesan mewah tetapi kalau malam tiba mungkin suasananya akan berubah pula.

Perjalanan berikutnya menuju lokasi yang menurut saya cocok banget sebagai lokasi film horror yakni rumah sakit jiwa bernama Henry Hobson Richardson. Nama tersebut diambil dari nama arsitek yang membangunnya di tahun 1870. Dari luar saja, saya sudah terbayang keseraman gedung tua yang telah ditutup sejak tahun 1970. Menurut orang lokal, isu isu makhluk gaib yang bermunculan di sini sudah terdengar biasa. Dulunya, di tempat ini para pasien kelainan jiwa tersebut kabarnya dijadikan kelinci percobaan dan banyak diantaranya mengalami penyiksaan dan kekejaman selama diobati.

Tidak heran jika di sini, masih dapat dilihat barang barang pasien serta terdengar "mereka" yang meronta ronta atau memanggil manggil. Sewaktu saya mengambil poto ini juga diingatkan untuk mengecek apakah di jendela tersebut ada sosok yang tampak. Takuuuut!

H.H Richardson Complex

Bagi yang punya nyali besar, dapat mencoba twilight tour mereka. Dijamin pasti mendapat pengalaman yang berarti.

Kalau buat saya, cukuplah melihat dari luar saja, itu sudah CUKUP BANGET! Yuk ah pulang takuntya ada yang ngikutin.
*lihat ke belakang*

Monday, July 28, 2014

Cable Car San Fransisco

Moda transportasi yang unik di suatu tempat kadang kala tak hanya menjadi alat transportasi belaka tetapi masuk dalam daftar yang tak boleh dilewatkan untuk dicoba seperti becak motor di Medan atau becak di Jawa.

Jika berkunjung ke San Fransisco, pastinya juga tidak akan melewatkan Cable Car. Cable Car menjadi wajah dari San Fransisco setelah masuk di (paling tidak) 6 film Hollywood. Dengan berlatarkan laut biru di belakang, di situlah si cable car perlahan lahan menaiki jalanan San Fransisco yang berbukit bukit. Di layar TV tampaklah sang pemeran utamanya yang gelendotan di salah satu tiang Cable Car, atau berlari mengejar Cable car atau yang nge lompat dari cable car demi mengejar pujaan hati. Yang belum ada cuma kelindes cable car aja. Hiiii!

San Fransisco - Cable Car
Diperkirakan ada 9,7 juta orang yang menaiki moda transportasi bersejarah ini setiap tahunnya. San Fransisco menyediakan 3 Line Cable Car yang masih beroperasi dengan total ada 44 cable car yang tersisa.


Cable Car dioperasikan oleh dua orang yakni kondektur dan gripman. Kondektur berfungsi layaknya kenek angkot di Indonesia. Memanggil manggil penumpang, mengingatkan jurusan yang dituju, memaksa penumpang masuk dan berjubel di dalam hingga menarik iuran serta tiket. Posisinya biasanya ada di luar sambil membunyikan bel dan memastikan penumpang nggak ada yang bandel dan berdiri di tempat yang seharusnya.

Yang satunya lagi adalah kondektur yang fungsinya seperti supir. Cable car tidak memiliki mesin dan sepenuhnya dijalankan menggunakan kabel yang terhubung di sepanjang jalurnya dan digerakkan oleh mesin di ruang kendali utama yang berada di Cable Car Museum. Tugas si kondektur adalah menjaga kecepatan laju cable car dengan cara mengendalikan grip berupa tuas besi panjang di dalam cable car yang beratnya bisa mencapai 165 kg.

Kondektur harus memastikan cable car berjalan stabil yaitu 9 mil per jam. Hal ini tentu tidak mudah mengingat jalanan San Fransisco yang penuh penurunan dan pendakian curam. Belum lagi dengan berat cable car mencapai 8 ton, pekerjaan ini memerlukan kekuatan fisik yang tidak main main. Tercatat hanya ada satu wanita yang pernah menjadi grip(women) di San Fransisco yakni Fannie Mae Barnes, seorang single mother berusia 52 tahun.
 
Tak hanya cara kerjanya saja yang unik bahkan juga cara pembuatannya. Untuk membuat satu buah cable car saja dibutuhkan lusinan pekerja khusus selama 18 hingga 24 bulan. Mengapa begitu lama? karena mereka menganggapnya lebih sebagai karya seni daripada hanya sekedar alat angkut manusia. Beberapa bagian cable car dipahat langsung oleh tukang kayu dari pohon oak atau jenis kayu keras lainnya. Selain itu, keseluruhan proses pembuatan dikerjakan langsung dari tangan tangan para tukang kayu tanpa bantuan mesin. Bahkan mereka mengklaim warna kayu yang terdapat di Cable Car tersebut asli dan alami bukan berasal dari cat buatan.

Mesin Penarik Cable Car di Cable Car Museum
Awal mulanya ide pembuatan Cable Car terjadi ketika pada tahun 1869, penemunya yang bernama Andrew Smith Hallidie menyaksikan kecelakaan di mana 5 kuda penarik barang yang sedang menaiki penanjakan curam tergelincir dan terseret turun ke bawah apalagi ditambah dengan muatan barang yang diangkut kuda tersebut sangat berat. Saat itu jalanan bebatuan tersebut memang licin dan akhirnya mengakibatkan kuda kuda tersebut meninggal. Kejadian naas tersebutlah yang kemudian membuat pria inggris itu mencoba sarana angkutan yang lebih baik

Pada zaman tersebut, kuda memang menjadi moda andalan untuk menyiasati jalanan San Fransisco yang turun naik. Tetapi hal ini sebenarnya tidaklah efisien. Biaya untuk memelihara kuda mahal, kuda tidak dapat banyak menaiki jalanan yang mendaki, dan kotoran kuda yang menumpuk di jalanan kota San Fransisco membuat masyarakat harus menemukan moda transportasi dan angkutan yang lebih baik.

Akhirnya pada tahun 1873, cable car tersebut berhasil diciptakan dan hingga sekarang menjadi saksi bisu bersejarah perkembangan San Fransisco.

Tarik Mang

Monday, July 21, 2014

Indonesia dalam Taman Mini Indonesia Indah Jakarta

Gak punya duit, waktu, tenaga buat keliling Indonesia? Sayang banget padahal Indonesia itu beragam dan indah banget.

Paling tidak minimal bisa mampir dulu deh di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.

TMII merupakan inisiasi dari Ibu Tien Soeharto pada tahun 1970 dimana ia berkeinginan untuk membangkitkan rasa bangga dan cinta tanah air masyarakat dengan memperlihatkan betapa indah dan megahnya Indonesia. Rancangan ini disetujui pada tahun 1971 dan kemudian pembangunan tahap pertamanya selesai dalam kurun waktu 3,5 tahun. Tepat pada tanggal 20 April 1975 TMII diresmikan oleh presiden Soeharto.

Terletak di lahan seluas kurang lebih 150 hektar, TMII itu luas banget jadi harus dipikirkan baik baik mau melihat apa, masuk yang mana dan mau ngapain. Saya awalnya hanya teringat oleh keong emas yang mirip mirip Opera House Sydney sehingga itulah yang menjadi prioritas saya.

Bersama dengan dua teman saya, dari Bintaro kami menggunakan bus dan angkot. Uh rasanya belum nyampe aja sudah mau menyerah karena harus gonta ganti angkot, bersabar dengan angkot ngetem, tunggu angkot di jalan hingga akhirnya bisa melihat gerbang TMII. Mungkin ada 2 jam di jalan!

Setelah membayar tiket masuk, kami berkunjung terlebih dahulu ke Visitor Information Centre untuk meminta peta serta melihat gambaran kira2 apa saja yang akan ditelusuri. Daripada bingung mending kami naik kereta gantung terlebih dahulu untuk melihat gambaran TMII dari atas. Ada dua line kereta gantung dan karcisnya per line adalah RP.30.000 / orang. Hari itu cukup sepi sehingga kami bertiga bisa langsung naik.

Naik Kereta Gantung
Sewaktu naiknya kami lebih banyak teriak histeris apalagi melihat keretanya cuma bertumpu pada satu besi penahan dan tiap kali melewati tiang penahan, seperti melewati polisi tidur. Gluduk! Jantung copot!

Setelah lama lama agak terbiasa, barulah kami baru bisa menikmati pemandangan sekitar di Bawah. Tampaklah yang paling mencolok mata adalah Snowbay Waterparknya baru setelah itu rumah adat tiap tiap daerah di sebelah kiri sementara taman mini dan danau buatan bergambarkan peta Indonesia ada di sebelah kanan.

SnowBay Water Park

Rumah suku asmat

Setelah naik kereta gantung dan belum memutuskan akan kemana lagi berikutnya, EH perut sudah minta diisi karena bertepatan juga dengan makan siang. Langsung saja kami makan di restoran cepat saji namun rasanya kurang mengena di perut, hati dan kantong. Untung saja sebelum ke sini, saya sudah memasak mi instan beberapa bungkus. Dalam sekejap mi dalam tupperware besar itu pun ludes, Hahah untung tidak termasuk kotaknya :)

Memang makan dulu setelah itu baru otak dapat bekerja dengan baik. Kami memutuskan ingin leha leha naik mobil keliling tapi setelah tahu itu tidak gratis (Rp.5.000) kami membatalkannya, mendingan jalan kaki saja ke Keong Emas dulu sambil olahraga sehabis makan.
Keong Emas
Selama di TMII ada satu lagi yang menarik perhatian yakni maraknya peminjaman sepeda hingga sepeda motor. Ada sepeda biasa, ada sepeda panjang dengan 2 penumpang dan ada juga yang elektrik. Hm yang terakhir terlihat sangat menarik. Memang dasarnya kami bertiga ini banyak makan, tapi malas gerak lalu timbullah ide naik sepeda elektrik setelah foto foto di Keong Emas.


Sepeda Elektrik alias scooter ini hanya diperuntukkan bagi dewasa karena cara kerjanya kayak motor. Gas dan rem saja. Biayanya Rp.25.000 / 30 menit dan sebelum menyewa, harus meninggalkan KTP sebagai jaminan.

Istana Scooter TMII
Berkat scooter ini, kami akhirnya bisa mutar hampir ke semua anjungan provinsi tanpa lelah. Udaranya juga masih segar dan sangat menyenangkan apalagi nggak pakai macet. Harusnya jalanan jakarta seperti ini nih. Para pengendara pake motor tenaga surya atau listrik kayak gini supaya mengurangi polusi dalam jumlah banyak.

Sepeda Listrik Mini


Berkat sepeda listrik ini juga, kami merasa telah mengubek ubek TMII dan memutuskan pulang. LOL!