Friday, September 26, 2014

14 travel selfies around USA

I usually dont do selfie, unless the place is remarkable or I dont have someone to help me capture the moment.

I have been go through thousand of pictures while I was in the states and every time I see this selfie, It made me stop, smile and blessed to be able to travel in USA.

So here we go my top 14 selfies during 10 months in states (random time):

1. Buffalo - New York

I was so happy for my first time seeing snow fall from the sky. After 5 minutes, I freeze and went back inside the house and found out my flight had been cancelled due the snow storm. Ughh!
2. Arizona

After watched UP movie, I was obsess to ride hot air balloon and here I am flying in the middle of Sonoran desert watching Saguaro cactus and having picnic afterward with my best friends. Dream came true!
3. California

 
My first and hopefully not last time took groupfie picture with my host family. We (unintentionally) crossed border in order to have the closest picture with H-O-L-L-Y-W-O-O-D sign.
4. Grand Canyon - Arizona

This is not looks like I was in Grand Canyon. LOL

5. Antelope Canyon - Arizona

The most photogenic canyon I've ever seen. I felt like Britney Spears who filmed the "I'm not a girl, not yet a woman" here and booked all the tour operators so she can have this amazing self by herself.

6. Acoma Pueblo - New Mexico

Located in mesa, Acoma Pueblo is the oldest inhabit village of native american. They dont have water, gas, electricity facilities but life is good for them.

7. Las Vegas

What happens in Vegas, stays in Vegas Saskia. But luckily, we bring home our love, laugh and friendship.

8. San Fransisco

One of the best places to have seafood is San Fransisco - Fisherman Wharf.

9. New Orleans

In front of St.Louis Cathedral - Jackson Square and found the banana tree in USA!

10. Navajo Nation - Arizona
Tried Smore before a night with creepy story session

11. Niagara Falls - Buffalo
With my "frozen-heart" group to Niagara Falls.

 12. Times Square - New York City

Most crowded and happening place in USA. Not so much for me.
 13. National Park - Washington, D.C

Can you see my freezing face?

14. Sedona - Arizona
My first hike into beautiful red rock. seven miles, six hours and I survived!

Portfolio

Worked With


Publication

1. Nusantara Magazine (an online magazine to learn Indonesian languange)

Nusantara Magazine
2.  Kompas Newspaper "Berbagi kasih di mana saja" (Christmas Edition) - 2011

Kompas
 3. Tribun Jambi "Terpikat Kacamata Mata Mata Ala Bocah Wakatobi" - 2012
Tribun Jambi
4. MyTrip Magazine "Sehari di Bengkulu" - 2014

MyTrip Magazine

Achievements 

1. Winner of “Write Your Comments, Win Your Prize” Jambi Town Square, November 21, 2011.

2. Winner of 2 article in “ADIRA BEST 100 FOI”, January 19, 2012.

3. Winner of “Aktivis Award” in Second Period on jadiberita.com, January 28, 2012.

4. Winner of “Lomba Artikel Lukis” West Sumatera and Jambi, West Java and Bali  in Adira Xpedition, 25 April 2012.

5. Winner of “Fullo Wujudkan Idemu” 20 April 2012.


7. Finalist of CHIC Leader’s Corner Contest.

8. 10 Nomination of Raja Kamar blog contes.

Other Achievements
1. Outstanding Alumnae of Universitas International Batam.

2. Participant of Australia-Indonesia Youth Exchange Program 2010, 23 October 2010- 20 February 2011. 
AIYEP 2010-2011
3.1st Runner Up Duta Wisata Dara Kepulauan Riau 2011.

Duta Wisata Teruna Dara Kepulauan Riau 2011 (me : in white dress)
 4. Finalist Putri Indonesia Kepulauan Riau 2011.

5. Indonesian Delegation Participant for UNEP TUNZA Conference 2011, 26 – 1 October 2011 in Bandung – Indonesia.

6. Participant of Young Leader Summit 2011, 2-4 December 2011 in Jakarta.

7. Indonesian Delegation Participant for International Youth Forum 2011, from 4 – 9 December 2011 in Tana Toraja – Indonesia (not able to attend)

8. Nominated Participant of The Stanford Summit 2012 – USA, 8-13 April 2012.

9. Putri Wirausaha Kreatif Indonesia Terdinamis 2012.
Putri Wirausaha Kreatif 2012 (me : first from left side)
10.Youth Representative in ASEAN Youth Meeting Day, Bangkok 17-21 September 2012.
ASEAN Youth Meeting Day 2012 (me : middle)
11.Participant of Jambore Pemuda Indonesia 2012, Palu 26Oktober – 3 November 2012.

12. Finalist of CHIC Star 2012.
Finalist of Chic Star 2012 ( me : third from right side)
13. The Most Natural Bintang Emeron with Cita Cinta Magazine 2013.
The Most Natural Bintang Emeron with Cita Cinta Magazine 2013
14. Finalist Duta Bahasa Jambi 2013.

15. Participant of Community College Initiative Program 2013- 2014.

Featured / Interviewed

1. Dskon

2. Motivasi Beasiswa ( AIYEP & CCIP)


4. Tribun Jambi

Tribun Jambi
5. Chic Magazine

Blog Review on CHIC Magazine
 6. Cita Cinta Magazine

Cita Cinta Magazine

Other :

For any tour / partnership / advertising / info contact me here :
Email : Lenny.kepri@yahoo.co.id
FB :  Travel Diary (https://www.facebook.com/lendiary)
Twitter : @Lenny_Indonesia

Thank you.

My Top 25 Bukcet List

Everyone has their own dream, so do I.
Something that I keep to make me feel alive. Something that I always looking forward before my timed-out. Including travel. I usually have more "to-do" list than "things-to-see" on my bucket list. The list might be ridiculous for others but it means a world for me. So, here we go my 25 list of you-might-think-i-am-a-dumb-ass dreamer :

1. Try a public onsen in Japan. Naked.
2. Wear a bikini. Wear a full bikini and sun-bathing in a beach.
3. Published travel book. The real one. Printed.
4. Eat one of the most expensive foods, caviar. It tasted awful, yaiks!
5. Kissing in front of Eiffel Tower.
6. Ride a camel in front of pyramid.
7. Bali spa in a beach.
8. Learn to dive.
9. Become a full time traveler. I'm on way, I believe.
10. Join The Amazing Race.
11. Underwater photo-shoot.
12. Sand-boarding.
13. Have a garden party wedding.
14. Trying other's country traditional costume.
15. Learn salsa or samba.
16. Sleep in the most expensive hotel at Dubai.
17. Road trip in Java Island.
18. Climb Bromo Mountain.
19. Ride helicopter
20. Hamma in Turkey.
21. Own my own homestay or hostel.
22. Seeing Aurora.
23. Trying Dog Sliding
24. Invited for Media / Press Trip.
25. Had a crush with my travel mate.

Would you share your bucket list, please?

Tuesday, September 16, 2014

Barang yang mungkin tidak diperlukan selama perjalanan

Di Indonesia ketika bepergian menggunakan pesawat, kita diberikan minimum 15kg bagasi bahkan bisa lebih. Hal ini membuat kita terbiasa memaksimalkan kesempatan ini untuk membawa seluruh isi lemari ke dalam koper. Pokoknya penuh penuhin koper, jangam sampai ada space tersisa.

Saya akui dulu sebagai newbie saya juga cenderung begitu.Daripada ada yang ketinggalan mending di bawa saja semua.
"Duh takut mati gaya karena bajunya itu itu terus" padahal bisa mix and match baju.
"Duh takutnya nanti perlu ini itu" kenyatannya nantinya nggak datang datang
de el el...

Baru setelah saya di USA gaya traveling saya jadi berbeda karena pergi pergi naik pesawat bagasi harus bayar sendiri lagi dan tentunya mahal bingits. Mau tak mau saya belajar untuk membawa peralatan yang benar benar dibutuhkan. Kalau hanya dipakai sekali, yah mungkin bisa beli aja atau pinjam atau nanti saja tunggu pulang rumah.

Sebagai konsumen pun, saya harus cerdas dan mempertimbangkannya sebelum membeli barang barang untuk dibawa jalan. Apakah benar barang yang saya bawa ke kasir ini nantinya tidak hanya dianggurin di pojokan rumah hingga berdebu? Apa iya barang barang berikut ini HARUS dibawa selama perjalanan dan bermanfaat?

1. Jam tangan
Saya tidak selalu menggunakan jam. Kebanyakan jam hanya difungsikan sebagai aksesoris dan memperindah tangan saja.
Alternatif lain : Handphone kan selalu dalam jangkauan. Lagi pula Hp ku telah disetel untuk langsung otomatis mengikuti waktu setempat sehingga saya tak harus mengotak atik lagi. Jika membawa jam, bisa juga saya menjadikannya sebagai patokan jam untuk di Indonesia sehingga saya ngeh kalau mau telp ke rumah di Indonesia tidak saat tengah malam/dini hari.

2. Pakaian yang dirancang untuk travel (quick drying, ultra-light, etc.)
Tidak punya dan tidak minat beli. Indonesia kaya akan sinar matahari, cuci baju, dijemur langsung kering kok. Kalau mau pake baju yang ultra ringan? kaos oblong banyak!
 
3. Botol botol kecil untuk sabun, shampoo, dll
Botol botol yang dijual dalam bentuk satu kemasan plastik ini memang sangat menggoda untuk dibeli. Cute abis apalagi dengan gambar kartun kartunnya yang menggemaskan. Tetapi, apakah benar benar butuh? toh hampir semua aneka sabun cair dan shampoo ada dalam kemasan yang kecil. Kalau saya justru maunya nyari tempat buat sabun batangan hihih
Alternatif lain : ketika menginap di hotel, saya terbiasa bawa pulang semua gratisannya (sabun, sampo) yang sudah dalam bentuk kecil.

Manfaatkan yang gratisan ini. #travellight
4. Packing cubes
adalah tempat yang digunakan untuk mengorganisir barang barang. Nah ini perlu nih. Biasanya saya punya satu untuk baju bersih, satu untuk pakaian dalam, satu untuk baju kotor dan satu untuk rupa rupa lainnya. Namun saya tak membelinya khusus untuk ini.
Alternatif lain : saya memanfaatkan kantong laundry bag dari hotel kenamaan yang biasanya berkualitas bagus. Karena ukurannya besar biasa hanya saya gunakan untuk pakaian bersih dan sisanya yang kotor.

5. Money belt/neck wallet/decoy wallet
Memang untuk menjaga keamanan, saya biasanya tak meletakkan uang berharga di satu tempat. Apalagi yang mudah terjangkau oleh tangan panjang. Tapi tak pula membuat saya serta merta harus punya money belt dan kawan kawannya. Rasanya justru ribet ada yang mengganjal di balik pakaian.
Alternatif lain : saya sih menjaga uang dengan seadanya saja. Tidak membawa uang banyak. Tidak membawa dokumen berharga berjalan jalan, dan biasanya saya pakai tas kecil yang selalu saya letakkan di depan. Atau, cara lain adalah nitip dompet/uang ke teman cowok hehe

6. Raingear / payung

Duh biasa pun kena hujan tidak masalah kok.
Alternatif : pernah dengar quote "Dancing in the rain"?

7. Travel pillow
Bantalan untuk menyangga leher ini mungkin hanya membantu sedikit untuk mengurangi pegel. Nggak worthy dibandingkan harus me-nenteng-nentengnya sepanjang perjalanan.
Alternatif : Bawa boneka sendiri dan sempalin di leher atau bawa si pujaan hati yang bahunya rela disandarin #eeeaaa

8. Sleeping mask

Ini kebanyakan saya lihat hanya terjadi pada bule saja yang terbiasa tidur dalam keadaan gelap gulita kalau saya mah hajar saja...
 
9. Ear plugs
Alternatif lain : tempelkan saja headset anda. Bonus : playlist lagu favorit.
 
10. Alat penjaga keamanan / pisau kecil
Keamanan memang prioritas utama tetapi membawa bawa satu set pisau kecil atau pepper spray tak banyak menolong rasanya. Jika terjadi sesuatu, daripada otak atik tas untuk mengambil benda ini, mending kabur seribu langkah terlebih dahulu.
Alternatif lain : jika sudah tahu tempat ini tidak aman, yah jangan ke sana. Bandel nih!

Pada akhirnya barang barang yang dibawa memang sangat tergantung mau pergi ke mana dan kondisinya seperti apa. List di atas saya kondisikan untuk keadaan standar. Tetapi kalau mau mendaki gunung, tentunya listnya jadi berbeda mungkin pisau kecil dibutuhkan ditambah senter, sepatu khusus daki gunung etc.

Tetapi jika bisa membawa semakin sedikit barang, tentu lebih baik. Tak banyak yang harus kita perhatikan dan takur hilang. Langkah pun makin enteng.Yuk ah travel light, travel more!

Thursday, September 11, 2014

Tips aman solo traveling di penginapan

Setelah menentukan destinasi wisata yang bakal dikunjungi, langkah selanjutnya yang saya lakukan adalah menentukan tempat tinggal nantinya. Tentu saya riset dulu apakah memiliki kenalan yang bisa ditodong tempatnya untuk saya inap. Tapi ini hanya berlaku untuk teman yang benar benar saya akrabi. Kalau temanan di FB doang itu nggak masuk lah. Jika tidak ada pun saya tidak masalah untuk menginap di hotel/hostel sendirian karena tidak ingin merepotkan dan terkadang justru lebih asik menginap sendiri.

Hanya saja, sebagai wanita muda, cantik, baik hati, lugu tentulah saya harus menomorsatukan keselamatan saya dan memilih penginapan harus dipertimbangkan baik baik. Biasanya saya menggunakan guideline saya sendiri seperti di bawah ini :

Hotel

1. Jika traveling seorang diri, pilihlah hotel yang pake bintang bukan melati. Semakin banyak bintangnya, biasanya semakin mengurangi was was karena mereka punya sistem keamanan yang lebih baik dan dan layanan yang telah terbukti bisa diandalkan. Tapi jangan pula tinggal di hotel / resort yang terlalu mewah yang menjunjung tinggi privasi 100%. Soalnya kalau mau teriak nggak bakal ada yang denger atau jarak antar ruangan para tamu berjauhan, sehingga jika ada urgensi mendadak susah menghubungi bantuan.

2. Beritahukan kepada keluarga/kenalan di kota tersebut dimana anda tinggal. Share info ini hanya untuk orang yang dapat dipercaya sehingga jika terjadi apa apa mereka tahu dimana lokasi anda.

3. Mengecek ruangan kamar hotel dan keamanannya. Pastikan tidak cermin adalah cermin asli, mengecek lobang pintu, kunci pintu kamar dan jendela serta apakah brankas berfungsi semestinya.

4. Kalau hanya tinggal 1/2 malam saya memilih tidak menggunakan room service untuk membersihkan kamar. Lagian seprei/selimut nggak perlu diganti tiap hari, sabun/sampo/tisu toilet masih ada, lantai nggak kotor dan handuk mandi bisa kok dipakai terus. Lebih aman dan nyaman saja rasanya jika ruangan tersebut tidak dimasuki dan "diganggu". Hal ini juga untuk menghindari si room service tahu bahwa saya hanya sendiri. Yah hitung hitung biar si mbak/masnya bisa absen bersih bersih sekali kali.

5. Hati hati sebelum membukakan pintu. Jika ada yang mengetuk/memencet bel pastikan itu adalah tamu yang diundang. Anda bisa memastikannya melalui lobang di pintu, atau sambil tetap memasang pengait rantai dan membuka pintu perlahan. Nah balik lagi ke no 1, kalo di hotel bintang kan jelas kalo misalnya memang room service karena mereka menggunakan seragam, bukan bapak bapak asing yang kakinya aja belum tentu napak ke tanah. Hiiii!

6. Tidak menerima tamu sendirian di kamar hotel kecuali memang orang tersebut telah dinanti nantikan hahah. Bagi yang baru anda kenal bisa mengajaknya ketemu di luar hotel (paling aman) atau lobby hotel (aman)


7. Selalu mengunci pintu ketika anda di dalam.

Hostel

1. Menginap di hostel memang jauh lebih hemat dari hotel tetapi dengan pertimbangan anda rela berbagi kamar tidur dengan tamu lainnya. Rela terusik ketika nyaris tidur dan teman sekamar baru pulang, kenalan dan ajak ngobrol basa basi? Rela berbagi oksigen dan bau bauan anda/dia yang kurang sedap? Rela makan roti sendiri terus dia pelototin dan akhirnya anda dengan sopan HARUS membaginya? Rela gak?? Saya hanya mau dan pernah mencoba berbagi kamar dengan satu orang wanita lainnya di hostel. Kalau sudah begini, saya harus terus menekan rasa was was saya yang kadang berpikir "jangan-jangan dia orang jahat" "nanti kalau dia coel coel saya gimana?" dan nanti-kalau yang lainnya. Tidak ada cara lain. Berpikir positiflah..jika tidak mau mimpi buruk anda malah jadi kenyataan dan tak tidur semalaman.

2. Jangan pernah membawa barang berharga. Hei tapi bahkan sepucuk surat dari si yayang adalah barang berharga #eeeaaa. Solusi : Dibawa atau ditinggal dalam tempat penyimpanan yang telah dikunci.

3. Lakukan perintah 1-7 di atas.

Comfy bed in Hotel Royal Kuningan - Jakarta
Setelah baca, apakah anda pikir saya paranoid? Tunggu dulu! Bandingkan dengan beberapa tips lebih ekstrem yang saya baca di inet :
- Letakkan kunci di dekat anda sehingga bisa mudah kabur.
- Letakkan sepatu/sandal dekat pintu agar mudah kabur (lah emang di sanalah keberadaan sandal/sepatu)
-Mencari jalur evakuasi hotel (deuh kalo sudah kebakaran itu sepenuhnya di luar kuasa keuleess)
-Letakkan kursi ato benda yang dapat berbunyi di dekat pintu jika saja kunci anda telah dicongkel dan pelaku telah masuk (jangan sampai please!)

In the end, standard keamanan orang orang pasti berbeda, dan tidak selalu tips di atas saya praktekkan. Contohnya ketika di Solo saya malah nekat pesan kamar di penginapan biasa untuk beberapa malam. Tidak ada review dari internet, hanya menggunakan insting dan saya mendapatkan pengalaman yang sangat baik.

Hanya saja, selalu waspada memang lebih baik. Dijamin tidur lebih nyenyak tanpa harus terbangun lalu mikir "Pintunya sudah dikunci belum yah?"

Monday, September 8, 2014

Only in Indonesia

I have been travel abroad few times and then coming home just to realized how beautiful each one of those countries. Nothing is more fascinating than to see how each one of them live their life. It broaden my horizon knowing my definition of normal might be interpreted abnormal from people across the globe and vice versa. Some people have such a complex way of live just to preserve their culture. Some has a modern life, leaving their root behind and some just struggle in between. Everyone is different.

Nonetheless to say, Indonesia is among the top of beautiful country with a lot of potential in any sectors. Tourism, education, society, etc - you name it. Indonesia has been known for its rainforest, white sandy beach, amazing sunset and abundant volcanoes. As an Indonesian myself, I used to take granted something around me until destiny brought me abroad and and missed it from far away. Some things does turn more beautiful, delicious, precious like this below.... when you lose it.


1. Street food is more delicious rather than restaurant.
In general, I can say street food taste the same if not better than the food in restaurant especially when it comes to Indonesian food. In jambi, I will never ever eat meatball in shopping center or restaurant. I better find it in small stall with affordable price and ended up with a happy tummy. The only concern about street food is the hygiene issue. For the newcomer, take it slowly and always look out how they serve food, cook and wash the dishes. You'll be surprised of how strong Indonesian stomach and how weak/sensitive your stomach.

Chicken Noodle + Ice Tea seller.
2. Speed bump every 5 meters
Level up your driving skills by strolling to narrow street or crowded neighborhood and feel the bump. The speed bump is not built by government, but the community or the owner of the house in the front of the street. Some of the speed bump made of big rope, cement or wood. In Indonesia it is known as lying police as it function as a guardian to watch vehicles not to speed up and hopefully there will be no accident especially with the kids.

3. Ojek.
One of the things I miss from Indonesia is how easy breazy I could commute to anywhere. Forget about walking miles and miles because you can't afford taxi. In Indonesia, I cant rely on public transportation, but ojek (private chartered motorcycle) has been an unofficial public transportation. Usually available in their stop as crossroad in the street or in the front of residency, there you can find ojek with their colourful vest and sometimes donated by one of the political figures. A skill to bargain is needed but even though it is a little bit expensive but relatively safe and fast to get you where you have to.

4. Komodo, the only living dragon in the world located in East Nusa Tenggara, Indonesia.

6. Rafflesia Arnoldii, the largest flower in the world. The diameter of the flower can reach 1 meter. Can be found in Bengkulu, Sumatera Island.

Rafflesia Arnoldii

5. Junior and Senior high school graduation celebrated with massive signing name and signature in the school uniform. They left behind the one that didn't pass the final test and hit the road and do their own carnival. If you see this group, be aware of traffic jam that might occur and dominating street as they think the road belongs to them.

6. When you see people put the pants around his/her neck, you know they are measuring to see whether it fit them or not. Still practice in mostly small city in Indonesia. PS : not reliable but believable for some.

7. Wedding in Indonesia is like no other places. For some parents, wedding is a graduation for them to raise their kids until now and they take it as a pride. Of course, they will love to have a big wedding with hundred people coming and shake their hand saying "Congratulation, you did great." In Indonesia, it is polite to give something (usually money in envelope) for the newly weds or if not a big-flowery sign to congratulate them. To make sure people come and wait until the last agenda, they offered gift,  music, dance and sometimes door prize. There are usually two kinds of wedding in Indonesia, first traditional one and second the international one. The traditional wedding depend on the family's race/religion/culture and can be more expensive than international wedding which is adapted from eastern culture with white long wedding dress, kissing bride (kids close your eyes!), toss champagne, cutting 5 feet cake and throwing banquet.

8. Book price is sometimes not affordable for people that enjoys reading. They have to come up with the idea to solve this problem which resulting in many people visit Gramedia (the largest bookstore chain in Indonesia) and read it there for free or borrow it from book stall. The book stall offered rent for as low as Rp.1.000 (USD 10 cent) for a comic. Yeah some people dont read text-book or heavy book yet for leisure.

9. Parking officer is the private sector job that comes from nowhere. I think several parking officers dont have the permit to re tribute the money but still they are acting as professional. Even though it is a cheap price (usually motorcyle = 1,000 IDR, car =2,000 IDR) but If they litterally just collect without helping anything, this is really annoying.

10. Traditional method to cure illness. We do believe in scientific and health industry. But we just so curious to find out is there any way cheaper, faster, without side effects that can work as good as the doctor's prescription? We need to be creative. That is why black magic, acupuncture, kerok, bekam, jamu, shinse are still the first thing to cross our mind when you think your body's not well.

Some list above might be showing not-a-good-side of Indonesia and need to be fixed but it shaped Indonesia as a place we called home. Admit it!

What else you can think of? Please share with us.

Wednesday, September 3, 2014

Tourist in my hometown

I'm gonna pick up the pieces,
And build a Lego house.
If things go wrong we can knock it down.

My three words have two meanings,
There's one thing on my mind.
It's all for you.

***
 
Jam di dinding menunjukkan hampir tengah hari. Aku berbaring dan melonjorkan kaki naik ke sofa. Baju kaos Arizona yang kupakai sedikit berkeringat karena aku tidak sedang berada di ruangan ber-AC di kantorku. Nyamuk nyamuk penunggu rumah tampak senang menerima tamu (baca: umpan) di hari yang tak biasanya, Senin pagi.

Temanku, Laser baru saja selesai mengajar bahasa inggris, terkejut melihatku disana. Kami bertegur sapa, menanyakan kabar, dan dia menanyakan asal muasal aku di sini.
"Jemput ferdi, mau bawa keliling Jambi." jawabku.

Padanya, aku meminta referensi tempat wisata yang patut dikunjungi karena daftar checklistku sudah habis terlaksana.
Kawasan Percandian Muara Jambi
Masjid 1000 tiang
Tanggo Raja
Nge-mall di WTC
Putar Putar naik motor

Laser menyebutkan beberapa tempat yang tak terpikir olehku antara lain 1) hutan kota dan hutan pinus, tempat ngeliat pasangan muda mudi mesum, 2) Rumah batu olak kemang, di daerah seberang yang bahkan aku pun jarang kesana.

Bukan aku saja yang tak minat, si ferdi (turis,red) pun ogah. Lebih baik kami pergi mengisi perut saja. Sarapan pagi tekwan ternyata tak awet membungkam cacing perut kami, padahal porsinya sudah ditambah.

Untuk siang hari ini, si turis maunya makan makanan khas Jambi yang aku dan Laser kebingungan mencarinya. Untung sebelumnya si turis telah diajak teman aku, bang Lukman makan di rumah makan khas Jambi sehingga kini posisi berbalik.Aku yang gadis jambi, besar di tanah pilih pesako betuah dan kenyang minum aek sungai batanghari justru harus dipandu si turis dari Bengkulu.

Sesampaimya di rumah makan Mak Nyuss yang telah direkomendasi bang Lukman, si turis kurang sreg dengan tampilan makanan yang tersaji ala restoran padang. Si turis pun mengurukan niat dan beralih hati ke restoran lain yakni, Rumah Makan Bu Salma yang telah dia coba kemarin hari. Karena saya tuan rumah dan pemandu yang cantik nan baik hati, saya ikuti saja maunya. si turis.

Usaha menuju rumah makan ini lagi lagi harus dipandu oleh bang Lukman yang menerangkan cara menuju ke sana. Lagi-lagi-lagi saya merasa seperti turis di kampung sendiri karena tidak tahu dimana Bank BTN ataupun gedung LPMP. Untungnya(lagi) si turis setelah dibawa puter puter ingat sedikit jalan dan (sepertinya) lebih mahir nyari jalan daripada aku sehingga pencarian pondok kayu bu Salma nggak pakai acara nyasar.

Begitulah kekikukan saya jadi pemandu buat si turis. 
Selama ini biasanya selalu aku yang jadi tukang jalan dan dipandu. Sudah berkali kali aku ngajak teman teman main ke Jambi namun belum membuahkan hasil. Apalagi jambi memang bukan destinasi wisata. Lebih banyak kalau diajakin ke sini tanyanya "Mau lihat apa di Jambi?" Oh Well!

Hingga akhirnya si turis ini memberikan konfirmasi akan tiba di Jambi subuh hari kemudian, saya sempat gak bisa tidur karena excited! Saya juga mau balas budi karena sewaktu ke Bengkulu dulu telah diperlakukan sedemikian rupa, so this is my time to return a big favor!

Dalam pikiranku si turis pastilah punya tabiat yang kurang lebih sama denganku ketika jalan jalan.
Mitos : Ingin melihat sebanyak mungkin.
Realita : Maksud hati biar si turis bisa melihat pemandangan yang berbeda tiap hari, saya menunjukkan jalan yang juga berbeda beda tiap harinya, eh si turis malah bilang saya membawanya putar putar, waktu tempuh jadi lebih lama dan saya dikira nyasar.

Mitos : Ingin mengunjungi objek wisata
Realita : Tidak semua tempat wisata membuat si turis berminat.

Mitos : Ingin mencoba semua atraksi yang ada
Realita : Aku menawarkan naik ketek (perahu kayu bermesin) yang digunakan untuk menyebrangi sungai Batanghari, namun ditolak.

Mitos : Harus bawa oleh oleh
Realita : si turis rencananya mau membeli duku tetapi karena harganya tidak lebih murah dari kota asalnya, batal! Saya sudah menyarankan membeli pempek / kerupuk / dodol dan sejenisnya tetapi alasannya "Bengkulu juga ada". Okay deeehhh..

Kesimpulan :
Mindset si pembawa jalan dan si turis acapkali berbeda. Apa yang aku anggap biasa biasa saja mungkin jadi highlight dalam perjalanan mereka. Seperti ketika menelusuri kawasan percandian muara jambi, aku rasa yang membuat perjalanan itu menarik bagi si turis adalah duku duku yang bertebaran yang boleh dipetik gratis dibandingkan dengan reruntuhan candi yang berusia ratusan tahun. Lalu ketika sudah bingung mau membawanya kemana lagi, tiba tiba terbesit ide membawanya ke vihara dan kelenteng dan dia juga mau. Selama di vihara, kami dilihatin terus oleh pengunjung lainnya karena mungkin si turis satu satunya yang tak bermata sipit dan ngoceh pake bahasa Hokkian yang broken. Tak disangka sepertinya kunjungan dadakan ini malah jadi highlight perjalanan dia ke Jambi.

Oh, dan akhirnya dia menemukan oleh oleh yang diinginkannya, gelang dengan koin sebagai charm-nya yang telah dijampi jampi. Welcome to the club, Ferdi (Lim Sen Ching)!

***

I'm out of sight, I'm out of mind.
I'll do it all for you in time.
And out of all these things I've done I think I love you better now
I'm out of touch, I'm out of love.
I'll pick you up when you're getting down.
nd out of all these things I've done I will love you better now
.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...