Friday, November 21, 2014

Kuliah di Amerika Serikat

Tahun 2013, tercapai juga cita cita saya kuliah di Scottsdale Community College, Arizona berkat beasiswa CCIP. Walaupun cuma 2 semester tapi lumayan lah buat mengintip rasanya jadi anak kuliahan di sana. Ternyata kuliah di USA itu punya sistem berbeda dengan perkuliahan kita loh. Anak anak SMU yang udah lulus, biasanya masuk ke community college terlebih dahulu. Alasan utamanya untuk menghemat biaya. Dibanding langsung masuk University, biayanya bisa dihemat ama lebih dari 50% loh. Jadi biasanya mereka di community college ambil mata kuliah yang masih general seperti bahasa inggris, mtk, atau yang harus wajib agar nanti bisa ambil mata kuliah selanjutnya yang nantinya bisa ditransfer ke mata kuliah di Universitas tujuan mereka. Kira kira 2 tahun di community college, mereka tinggal lanjutin 2 tahun lagi ke university baru deh dapet S1 (Bachelor Degree). Sedangkan untuk community college sendiri kita hanya dapet Associate degree atau sekelas D1 D2 D3 di Indonesia kali yah (correct me if I'm wrong).

Sepanjang kuliah disana, saya bisa melihat banyak perbedaan antara sistem kuliah di Indonesia ama di community college di USA.

1. Kelas
Di USA terdapat tiga jenis kelas yakni, yang biasa (ketemu dosen di kelas), online (tidak ada pertemuan dengan dosen hanya melalui internet) dan juga hybrid, yang merupakan gabungan antara yang online dan biasa (hanya beberapa pertemuan dan sisanya online). Harga kelas online memang lebih murah dari yang biasa, tapi menurut saya belajar nggak melihat dan mengenal dosennya terasa kurang sekali. Seperti hanya belajar sendiri dengan membaca buku. Yeeee mendingan saya ke perpus deh. Kecuali beberapa alasan, tidak ada kelas biasa yang bisa diambil, jarak kampus jauh, disabilitas atau mau kuliah tapi kerja, nggak punya waktu baru deh ambil online / hybrid. Selain itu, kita bebas mengambil kelas yang tidak ada hubungan dengan jurusan kita. Saya baru nyadar bahwa yang mengambil kelas di community college ini mempunyai berbagai macam tujuan. Ada yang memang anak muda yang mau ngirit duit buat lanjutin ke universitas nantinya, ada profesional yang mau mengambil certificate dan ada juga yang untuk memperkaya diri saja. Untuk ruang kelas di USA juga menurut saya lebih lengkap daripada di Indonesia. Tersedia build-in proyektor, komputer, tempat charger, tong sampah, hingga pengerik pensil yang menempel di dinding. Saya lihat lihat mahasiswa sini gemar pake pensil loh..mungkin biar hemat bisa dihapus.

Jumlah siswa dalam kelas pun terbilang sedikit dan ini yang saya suka. Satu kelas saya pernah isinya cuma sekitar 10 orang saja. Paling banyak mungkin 30-an saja. Kan enak dosen pun bisa hapal nama kita.

Ruangan kelas di Scottsdale Community College

2. Teman sekelas
Sewaktu saya kuliah di Indonesia, saya cenderung memiliki teman yang itu-itu saja karena yah memang pilihan kelasnya jika mendaftar satu jurusan yah itu itu juga. Di USA, karena tidak ada pembatasan mengambil kelas apa dan juga pilihan kelasnya bervariasi, makanya saya bisa ketemu dengan banyak manusia.Misalnya teman saya di kelas bahasa inggris rata rata adalah teman dari berbagai pelosok dunia karena memang kelas itu wajib diambil bagi kami yang begitu lahir gak bisa ngomong "Mommy!". Kami suka curhat mengenai bagaimana beradaptasi di negeri paman sam dan enaknya saya tak perlu minder karena rata rata bahasa inggris anak indonesia tidak jelek dan aksen kita mudah dimengerti. Di kelas creative writing, rata rata saya punya teman asli orang AS dan mereka bukan mahasiswa belaka. Kebanyakan telah berusia matang dan bergelut di profesinya masing masing. Mereka mengambil kelas ini untuk hobi dan alasan pribadi. Ada seorang ibu yang berhutang menyelesaikan buku tentang anaknya, oleh karena itu dia mengambil kelas ini. Ada juga seorang kakek yang pake bantuan alat pendengar di kelas kami. Terkadang kami harus mengingatkan si dosen jika si kakek memiliki keterbatasan dan si dosen harus menggunakan semacam mik kecil di kemejanya agar si kakek bisa mendengar. Pertama saya pikir, duh udah tua kasian juga nih. Kenapa nggak di rumah aja urus cucu? Yeeee tapi ini kan bukan di Indonesia. Mana ada kakek - nenek yang tinggal sama cucu lagi di USA? yah mendingan ke kampus belajar dan beraktifitas bersama kami kali yah. Biarpun usianya sudah lanjut, dia tetap rajin bikin PR dan selalu aktif di grup. Dia bilang dia sungguh terharu dan senang bisa gabung kelas kami karena mendapat banyak pelajaran dan karena kami orangnya asik asik. Sayangnya di beberapa kelas terakhir dia harus Drop Out karena alasan kesehatan. Hiks!

Namun dibalik asiknya teman teman sekelas, saya akui saya tak punya teman yang benar benar dekat karena tidak seperti budaya di Indonesia yang habis kelas diskusi dulu tentang pelajaran lalu nyontek, kumpul di kantin atau bergosip. Kalau disini rata rata mahasiswa masih harus bekerja menghidupi diri mereka sendiri sehingga habis kelas yah cabut. Apalagi kalau saya ikutan kelas yang rata rata mahasiswanya orang tua atau pekerja.. kan nggak mungkin nongkrong ke mall bareng anaknya?

3. Kampus
Scottsdale Community Collage termasuk unik karena :
a. Satu satunya kampus yang berada di tanah suku Indian. Di Arizona kan senjata api termasuk legal kecuali di tanah suku indian. Jadi boleh dikata kampus kami selalu aman.
b. Kampus kami go green loh! Walaupun scottsdale tuh di gurun pasir, tapi kalo liat kampusku rasanya adem. Ada pohon dan kaktus, tempat recycle, isi ulang air minum, tempat olahraga dan lihat saja maskot kami bukan binatang tangguh tapi sayur yakni Arthichokes!

Beautiful Scottsdale Community College's campus
4. Fasilitas Kampus
Seperti kampus kampus di Indonesia, di USA mereka juga menyediakan klub, aktivitas buat para mahasiswa, acara acara seni,budaya dan olahraga. Kampus juga menyediakan wifi gratis, laboratorium, perpustakaan (sayangnya selama setahun sedang dalam renovasi),kantin, toko buku dan alat penunjang lainnya. Yang membedakan adalah tersedianya writing centre yang berfungsi untuk membantu kita mengoreksi bahasa inggris serta hal hal terkait tulisan kita. Fasilitas gratis ini adalah andalan saya tiap kali mau ngumpuli PR, mesti cek dulu kesini biar grammarku yang kacau balau ssedikit tertata. Kenapa hanya saya katakan sedikit tertata? karena setelah saya cek dan saya benerin, begitu ngumpul PR lagi si dosennya malah membenarkan bahasa inggris saya lagi. Hm apakah bahasa inggris itu grammarnya juga subjektif?
Ohya, writing centre ini sistemnya kita bikin janji (max 30 menit) dengan salah satu pengajar, lalu nanti kita bertemu one-on-one dan kita kasih liat PR kita lalu nanti dia lihat mana yang salah. Jadi saya pun bisa tanya kenapa salah dan nanti dijelasin. Sistem ini sangat membantu sekali loh. Nggak juga international student yang langganan pengguna fasilitas ini, tapi ada juga kok mahasiswa USA yang bolak balik ke sini.

5. Dosen
Seperti di Indonesia, dosen ada yang baik ada yang nyebelin. Kalau pintar mengambil hati, syukur-syukur nilainya lebih bagus. This is so true! yah walau bule, namanya juga manusia kawan. Walaupun gitu, pilih kasih mereka tetap nggak terlalu timpang dan masih dalam lingkup profesional. Buat yang pengen tahu mau milih kelas di mana dan dengan siapa, nih ada referensi yang biasa mereka pakai unutk mengetahui dosennya galak apa nggak.

Beda dosen, beda cara ngabsen. Ada yang gak peduli kamu datang / telat, ada juga yang peduli. Nilai absen ini tentunya bisa mempengaruhi nilai dan pendangan dosen terhadapmu loh, jadi berusahalah disiplin. Untuk pengambilan nilai dan cara mengajar, sepertinya dosen diberikan kewenangan sepenuhnya. Dosen favorit saya selalu dari Creative Writing class. yah karena mereka mengajar dengan cara yang asik dan tak kaku. Misalnya, terkadang kami diminta untuk mencari ide cerita di luar kelas. Lalu saya pun melipir ke bangku taman dan berbaring sambil memandangi bintang. Damai!

Rata rata dosen pun sangat ramah dan terbuka mengenai kehidupan pribadinya. Sepertinya dia memang tak ingin menjaga jarak antara dengan mahasiswa. Untuk nilai, ada juga yang santai, misalnya asal ngumpulin tugas aja, dapet A. Tapi ada juga yang ketat soal nilai, sekali lagi tergantung ama dosen. Biasanya di hari pertama, dosen membagikan selembar kertas yang berisi penjelasan apa yang akan dipelajari, cara dapet A gimana, email si dosen dan garis besar tentang kelas. Jadi dari pertama aja sebenarnya udah bisa dilihat kelas ini worthy atau tidak, karena ternyata sistemnya bisa loh cancel mengambil suatu kelas dan uang dibalikin. Asik yah!

6. Sistem Pembelajaran
Sistem pembelajaran yang saya rasakan paling berbeda. Kalau kuliah dulu, terasa banget budaya mencatat-mendengarkan apa yang dosen bilang. Kalau di sini, saya punya satu buku tipis yang berfungsi untuk semua kelas saya selama satu tahun...dan nggak habis dipakai. Kebanyakan materi yang disampaikan dalam bentuk presentasi yang nanti bisa dishare di sistem kampus. Kecuali memang ada catatan pribadi yang dirasa penting, saya baru catat. Lalu dikelas pun lebih ditekankan untuk kita aktif. Aktif bertanya dan menjawab. Ada nilai plusnya loh. Biar disenangi dosen, biar ketahuan kita ngerti apa nggak dan biar dosen tahu kita nggak tidur :p

Menjadi mahasiswa internasional itu enaknya, kita selalu bisa memberikan perspektif yang baru pada mereka sehingga penting sekali nih kita sebagai "duta bangsa" meluruskan info info terkait negara kita misalnya seputar terorisme, korupsi dan hal negatif yang biasanya itu yang tersiar ampe USA.

Di kampus saya, kami menggunakan CANVAS, semacam sistem integrated yang bisa untuk lihat nilai, kumpul pr dan inbox-an ma dosen. Sakral banget deh.

7. Libur semester
Kalau di Indonesia sistemnya semesteran, di USA pakai quarteran jadi kalau dihitung yah cuma 3 bulan aja. Ada Winter, Spring, Summer, Fall. Sisanya libur. Saatnya jalan-jalan!

Belajar dari dunia luar melalui Traveling

8. Beasiswa
Ada juga loh beasiswa, biasanya terbagi atas dua. Berdasarkan kemampuan akademik ato kemampuan finansial. Infonya mudah didapatkan juga di kampus. Kalau untuk anak USA sih biasanya mereka nggak bayar dulu tapi ngutang ama pemerintahnya dan dibayar setelah bekerja kecuali yang punya duit.

9. Asiknya jadi mahasiswa International
Ini sama aja kayak di Indonesia, kalau ada mahasiswa dari negeri asing ntah itu Pakistan atau Cuba pasti kita penasaran dong. Begitu juga begitu mereka tahu kita dari Indonesia. Secara letaknya aja mereka kurang paham dimana. Kadang sampe saya bisa gondok kayak begini.

Tapi saya berusaha memahami, toh sebelum ke USA saya nggak tahu ada negara Ghana di Afrika. Denger juga kagak hehehe

Selain itu, karena keeksotisan kita, saya dan teman teman Internasional lainnya bisa jadi artis dalam acara International Education Week atau yang mengangkat budaya budaya gitu.

Mempromosikan diri sendiri dan Indonesia

Tapi pada akhirnya, saya pikir kuliah dimana saja sebenarnya sama, asal ada niat untuk belajar, nggak bolos, rajin dan memanfaatkan kesempatan / fasilitas yang ada, maka niscaya akan berhasil. Buktinya, anak anak yang kuliahnya di Indonesia tetap bisa kan menorehkan prestasi keren di kancah internasional. Ya nggak?

Ada tambahan yang lain lagi teman?

Wednesday, November 12, 2014

Little Venice in Los Angeles

Di Los Angeles, Ada sebuah area yang terletak di sebelah barat yang bernama Venice. Awalnya daerah yang dekat pantai Venice ini adalah kawasan perumahan warga yang dikenal sebagai "Venice of America" .

Penemunya adalah Abbot Kinney, seorang jutawan rokok yang kini namanya dikenang sebagai nama jalan di sana. Di venice ini, turis dan masyarakat bersileweran memadati jalan jalan di sekitar broadwalknya yang ramai oleh atraksi jalanan dan toko toko. Jika musim panas, banyak tuh yang lagi memanggang tubuhnya di pantai Venice ato sedang belajar surfing.

Nah tak jauh dari sana, ada atraksi wisata lainnya yakni Venice Canal. Canal ini sih cuma buatan manusia dan memang mungkin dibuat mengikuti konsep di Italia walaupun tanpa gondola dan pria Italia yang sexy.


Venice Canal

Venice Canal
Yang menarik buat saya sih bukan canalnya, tapi justru rumah rumah disampingnya. Tahu sendiri kan kalau rumah di USA itu rata rata bentuknya itu-itu aja karena mereka tinggal di perumahan atau condo. Nah di sini ini baru saya bisa liat kreativitas mereka bikin rumah. Ada yang tabrak warna, ada juga sih yang sampai gak keurus walaupun jarang, dan tak jarang banyak yang desainnya futuristik gitu. Harganya juga termasuk mahal loh kalau di sini. Hm...pastinya orang kaya yang tinggal di sini yah secara banyak kapal kapal kecilnya parkir canal depan rumah. Asik yah!





Photographed by my awesome host-dad : Jean-Michel Bosch :)

Saturday, November 8, 2014

Tempoyak di RM Bu Salma Jambi

Sebagai orang jambi, saya tidak berminat sekalipun mencicipi makanan khas jambi yakni tempoyak. Miris yah. Habisnya tempoyak itu kan durian yang dibusukin (baca: difermentasi). Yang durian metong aja nggak doyan, apalagi yang busuk busuk? Cukuplah mpek mpek sebagai makanan khas jambi yang saya klaim.

Hingga suat saat datanglah "tamu" dari Bengkulu yang doyannya makan. Lalu mintanya makanan khas pula! Sebagai tuan rumah saya jadi malu mengakui saya tidak pernah memakannya dan juga tidak tahu harus merekomendasikannya kemana. Untung ada teman saya yang memberitahukan tempat yang cocok yakni Rm. Bu Salma. Ketika kami datang untuk makan siang, sudah tampak beberapa pelanggan yang menikmati santap siangnya. Karena berada di telanaipura, tidak heran jika kebanyakan pengunjung adalah para Pegawai Negeri. Mereka nampak sangat menikmati makanan, bahkan makan pakai tangan juga.

Duh, saya jadi aji mumpung dan penasaran ingin mencoba juga. Bagi yang tidak ingin mencoba makanan khas jambi, tidak apa apa juga karena masih banyak menu lainnya seperti sop ayam atau ikan bakar, tentunya sama sama dengan harga terjangkau.

Berikut daftar menu yang kami habiskan:
1. Tempoyak Ikan Toman Rp. 17.000
2. Teri Cabe Ijo Rp. 10.000
3. Cah Kangkung Rp. 10.000
4. 1 Nasi Rp.6.000 (nasinya mahal yah?)
5. Es Jeruk Rp. 6.000

Walaupun biasanya campuran tempoyak itu ikan patin, tapi kami mencoba ikan toman. Rasanya tetap enak, gurih dan tidak berbau amis. Apalagi kuahnya jika dicampur dengan sambal caluk (sambal khas jambi dengan terasi) saja sudah bikin pengen nambah lagi. Ketakutan saya akan bau durian justru tidak terbukti. Mungkin karena kuahnya tidak begitu kental sehingga bau ala duriannya tidak terlalu menyengat. Saat makan ini, saya malah berasa sedang makan sup ikan hehehe

Tempoyak, sambal teri dan sambal caluk Bu Salma

Bagi yang penasaran, silahkan di coba yah. RM bu salma ini dari pinggir jalan pun kelihatan apalagi modelnya rumah makan warung sederhana namun kesemuanya memuaskan. Makasih Bu Salma!

Info RM. Bu Salma (Telp : 0741 62691)
Di depannya kantor Telkomsel Telanaipura - Jambi

Monday, November 3, 2014

Historic Route 66, USA

Sejujurnya, makna perjalanan itu kan perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Jadi bukan hanya mengincar tempat tujuan tapi juga menikmati setiap proses hingga sampailah kita ke tempat tujuan. Tetapi zaman sekarang biar cepet dan praktis, orang orang cenderung naik pesawat terbang. Saya juga tidak munafik dengan kenyataan tersebut, tetapi jika punya waktu, uang dan tenaga yang cukup kenapa tidak? Wong masih sehat dan jika road tripnya aman, maka hendaklah dicoba.

Selama di USA, beberapa kali saya melakukan road trip yakni dari Arizona ke San Diego, Los Angelas dan ke New Mexico dan juga dari Washington DC ke Pennsylvania dan New York. Walaupun berasa banget pantat jadi tepos, saya juga mendapat hikmah lebih yakni bisa melihat struktur alam yang perlahan lahan berubah ketika memasuki daerah lain. Pastinya saya belajar lebih banyak karena melihat lebih banyak. Sesuatu yang tak bakal saya dapatkan dengan naik pesawat terbang.

Big Fan of Road Trip
Salah satu road trip yang sangat saya ingat adalah road trip bersama host familyku yang melewati Route 66.

Route 66 disebut juga Mother road ini merupakan jalanan bersejarah karena dipakai ketika adanya transmigrasi besar besaran di tahun 1930-an ke wilayah Barat USA. Tidak heran route ini menjadi penyambung daerah timur ke ujungnya lagi. Panjangnya pun bukan main 4000km, dari Chicago hingga ke Santa Monica - California. Kurang lebih seperti dari Papua ke Padang lah kali yah. Imbasnya, jalan ini pun dulunya dapat menghidupkan ekonomi bagi daerah daerah yang dilewati.

Walaupun saat ini, route ini tidak terpampang lagi di map yang modern dan sudah tidak seramai dulu lagi, tidak ada salahnya saya dan host familyku menapak tilas jejak yang ada. Kami memulai perjalanan dari Scottsdale, Arizona ---------> Santa Fe, New Mexico.

Route 66 Souvenir

Berangkat pada pagi hari, kami baru tiba di keesokan sorenya dengan menginap semalam di Navajo Nation. Itu sengaja karena ingin menyambangi tempat tempat iconic yang tersebar di sekitar Route 66 seperti :  

1. Navajo Nation
Sebagaimana sejarah mengatakan bahwa suku asli amerika adalah orang Indian. Di USA, orang indian memiliki suatu wilayah khusus miliknya sendiri yang dikenal sebagai Indian Reservation. Di Arizona, terdapat Indian Reservation terbesar yang memiliki wilayah sebesar 65.000 kilometer persegi yang kalau diukur sama besarnya dengan West Virginia yang bernama Navajo Nation. Saking besarnya wilayah Navajo Nation yang berkedudukan di utara Arizona ini juga meliputi Utah dan New Mexico. Dari scottsdale, kami membutuhkan waktu 6 jam untuk sampai di Navajo Nation. Begitu tiba di kotanya, tampaklah banyak patung dinosaurus di sisi jalan karena katanya dulu pernah ditemukan fosil dinosaurus di sini. Kawasan Navajo Nation dengan landscape khas guru ini terbilang unik sehingga telah banyak difilmkan untuk setting film film koboi zaman dahulu.

Navajo Nation
2. Hubbell Trading Post
Sebagai penduduk pertama yang mendiami Amerika Serikat, suku Indian menjalani kehidupannya dengan caranya sendiri yakni salah satunya adalah melakukan barter untuk memenuhi kebutuhan sehari hari sebelum adanya pengaruh dari luar serta diberlakukannya dolar di Amerika Serikat.

Untuk melakukan barter, suku Indian melakukannya di suatu tempat yang disebut Trading Post. Mereka membawa barang yang hendak ditukarkan dan menukarkannya dengan sesuatu yang tersedia di Trading Post.

Salah satu trading post yang terkenal terletak di Navajo Nation, Arizona yang bernama Hubbell Trading Post. Trading Post ini masih berfungsi sebagai tempat barter hingga sekarang. Tentunya yang bisa barter pun hanya suku Indian tersebut. Bagi kita para wisatawan, dapat membeli barang barang suku Indian maupun kebutuhan sehari hari di toko dalam kawasan Hubbell Trading Post ini.

Di toko ini dapat ditemukan barang barang yang bisa dibilang antik bagi masyarakat Amerika Serikat seperti koran khusus Navajo Nation, karung tepung, kaleng besi air minum, mesin kasir lama, dan barang barang kebutuhan rumah tangga yang sepertinya datang dari beberapa ratus tahun yang lalu. Bahkan transaski jual belinya pun masih menggunakan nota. Berasa belanja di toko papa saya di Jambi!

Selain itu, bagi yang mencari oleh oleh khas suku Indian, tidak perlu ragu membelinya disini karena terjamin keasliannya. Jika anda punya banyak waktu, bercakap cakap ria dengan penjaga tokonya pun menyenangkan sambil mendengarkan gosip lokal Navajo Nation.

Hubbell Trading Post

3. El Rancho hotel
Tadi saya bilang kan di Navajo Nation sering dijadikan lokasi syuting untuk film koboi dulu? Nah selama syuting kan para bintang film itu butuh tempat menginap. Salah satu hotel yang dengan bangganya telah ditiduri aktris/aktor zaman dulu adalah El Rancho. Disini dipajanglah foto foto aktris/aktor tersebut. Kami tidak menginap di sini hanya numpang makan malam di restoran Meksikonya karena kesulitan mendapatkan restoran sehat di Navajo Nation. Rata rata di Navajo Nation cuma ada restoran cepat saji.



4. Acoma Pueblo
Acoma Pueblo
Acoma berasal dari bahasa spanyol yang berarti "the place that always was" yang bagi mereka adalah sebuah tempat dimana disana lah seharusnya mereka tinggal. Pueblo adalah salah satu suku Indian. Jadi bagi suku Pueblo, Acoma Pueblo yang disebut juga sebagai sky city, adalah rumah bagi mereka meskipun di atas ini tidak terdapat listrik, sinyal Hp maupun air. Bahkan WC pun masih berada di luar ruangan. Acoma Pueblo terletak di Gallup, New Mexico USA di salah satu mesa. Mesa dalam bahasa spanyol berarti meja yang jika kita intrepertasikan dalam bahasa orang sini adalah sebuah dataran tinggi yang diatasnya rata dan umumnya terbuat dari batu batu raksasa. Mesa dapat dengan mudah dijumpai di Southwest USA. Sejauh yang saya ingat saya belum pernah melihat mesa di negara lain, termasuk Indonesia.

Sang Penjual menunggui dagangannya di Acoma Pueblo
Acoma Pueblo ini tingginya 112 meter dari tanah dan memiliki luas kira kira 431,664 acres serta dinobatkan sebagai desa tertua yang hingga kini masih dihuni di USA. Untuk mengunjunginya, kita harus menggunakan tur yang tersedia dan nanti diantarkan hingga ke atas mesa dengan mobil. Di atas sini, cuaca dingin dan kering. Orang pueblo yang menyambut kami pun sangat ramah dan mereka menjual barang barang kerajinan mereka asli di depan rumah. Harganya terbilang murah sekali dibanding harga di pasaran. Contohnya saya membeli kalung seharga $5 lengkap dengan nama si pembuat di balik kalung. Selain itu, suasana terasa aman dan bersahabat. Tidak pernah sekalipun mereka meminta minta kepada turis atau melakukan scam. Jika pun kami hanya lihat lihat, mereka juga sangat ramah melayani. Sang fuide pun mengatakan dengan sopan jika ia berharap ada tip, tapi kalau tidak dikasih juga tidak masalah. Selesai tur, saya dan host familyku tidak ikut balik menggunakan mobil tur melainkan mencoba seperti orang dulu yang jika ingin bercocok tanam harus ke bawah dengan jalan kaki menapaki bebatuan yang curam.Salah salah nyungsep nih!

Turun dari Acoma Pueblo
5. Continental Divide
Jadi kan benua amerika ini di sebelah baratnya samudra pasific, sebelah kirinya samudra atlantic.Nah continental divide ini sebagai garis penanda bahwa disini (New Mexico,red) adalah tempat yang cukup tinggi (kurang lebih 2218m) sehingga karena ketinggiannya membagi jalur air yang berada di barat, akan mengalir dan bermuara ke pasific, sedangkan di sebelah kirinya akan terus mengalir hingga ke atlantic sana. Garis continental Divide ini panjang loh hingga sampai ke ujung Amerika selatan sana. Kebetulan saja kami melewatkan salah satu continental divide, jadi yuk foto!


6. Ten Thousand Waves
Setelah jalan jalan blusukan liat budaya suku indian dan amerika, senang sekali rasanya ketika saya menemukan suatu tempat yang tak begitu asing lagi, yakni penginapan, spa dan restoran jepang di santa fe yakni Ten Thousand Waves. Kami sih nggak mencoba nginap dan spa, tapi sempat makan di sana dan uenak poll setelah bosan dengan tortillas dan american breakfast hehe. Cuma yah namanya masakan jepang , udah seucrit, mahal pula. Hiks!

Restoran yang bernama izanami ini di desain memang ala jepang banget dengan desain bangunan khas rumah lama jepang, lalu kita juga bisa memilih duduk lesehan ala jepang dan yang lebih indahnya toiletnya ala jepang gitu, dengan penghangat pantat untuk dudukan toiletnya. Aih tau banget di luar lagi bersalju!

Ten Thousand Waves - Izanami Restaurant
7. Belajar Ski di
Akhirnya tibalah juga kami di tempat tujuan. Road trip kami ke Santa Fe memang punya satu tujuan khusus yakni mau main ski. Saya pun ketiban rezeki hadiah natalku yakni paket belajar ski bagi pemula. Selengkapnya liat di sini yah.




Wah, rupanya setelah saya tulis, banyak juga yah obyek wisata anti-mainstream yang ada di sepanjang route 66 padahal baru lintas 2 state yang bertetangga. Aih saya jadi pingin melanjutkan sisanya nih dari ujung ke ujung!

See You Next Time Route 66

Sunday, October 19, 2014

Beasiswa Community College Initiative Program

Mau ke Times Square - NYC ?
Sudah puluhan kali saya melamar kerja sebagai Writer, Editor atau Copywriter. Hasilnya selalu sama, nihil. Saya percaya ini bukan karena kemampuan saya tapi karena basically saya tidak memenuhi persyaratan pertama yaitu lulusan S1 dari Komunikasi/Jurnalis/Public Relation/Sastra dan sebagainya. Sebelumnya saya adalah lulusan sarjana komputer yang kemudian ingin berganti profesi. Saya sudah melampirkan CV dan mencantumkan pengalaman saya berkecimpung di dunia tulis menulis. Namun, sekali lagi hasilnya nihil. Hingga akhirnya saya mendapat informasi dari sahabat saya tentang beasiswa Community College Initiative Program(CCIP).

CCIP adalah program beasiswa non-degree dimana kita dapat kuliah selama satu tahun yang dibiayai oleh pemerintah USA. Di Indonesia, CCIP dikelola oleh AMINEF. Boleh dibilang CCIP ini “adiknya” si Fullbright. Total peserta yang diberangkatkan tahun ini(2013-2014) berjumlah 48 orang dari Aceh sampai Papua, dari lulusan SMU hingga middle level professionals working yang mengambil jurusan Media, Tourism and Hospitality Management, Business Administration, IT, Engineering and Early Childhood Education. CCIP dimaksudkan untuk membantu para pekerja untuk meningkatkan skill dalam bekerja maupun personal. Tidak hanya itu, sebagai penerima beasiswa sudah sepatutnya para penerima beasiswa otomatis menjadi duta bangsa Indonesia yang akan memperkenalkan Indonesia di mata internasional.Tidak hanya mendapatkan kesempatan belajar dan magang kerja di Amerika, penerima beasiswa CCIP juga berkesempatan berkecimpung di berbagai kegiatan lainnya seperti community service, cultural event dan berbagai workshop pengembangan leadership and self development. Ketika akan mendaftar, saya harus memperhatikan syarat syarat yang diwajibkan yakni :
  1. Minimum telah mengenyam pendidikan SMU/ S1. Sebenarnya diprioritaskan untuk lulusan SMU, tetapi nyatanya kebanyakan yang lolos adalah lulusan S1. Untuk lulusan S1, harus mengajukan bidang studi yang berbeda dengan pendidikan S1 nya tetapi harus sesuai dengan pekerjaan/kegiatannya saat ini. Contohnya saya lulusan S1 komputer tetapi mendaftar untuk jurusan media. Note : Beasiswa ini tidak berlaku untuk lulusan S2 dan S3.
  2. Memiliki kemampuan berbahasa inggris yang baik yang ditunjukkan dengan nilai ITP TOEFL minimum 450 atau setara (untuk TOEIC dan IELTS)
  3. Mengisi application form yang tersedia. Selain mengisi biodata, di dalam Application Form ini juga terdapat 4 mini-essay yang harus diisi. Jawablah dengan memberikan contoh/gambaran yang spesifik agar penilai dapat menilai kecocokan anda dengan program beasiswa ini.
  4. Mengirimkan berkas yang diminta dalam bentuk hard copy (print) ke AMINEF. Beberapa hal yang cukup menyita waktu saya dalam menyiapkan berkas yang diminta adalah terjemahan sertifikat dan daftar nilai ijazah SMU serta universitas yang sudah dilegalisir ke dalam bahasa inggris. Saya akhirnya menggunakan penterjemah tersumpah di jakarta untuk melakukannya karena saya tidak menemukan penerjemah tersumpah yang diinginkan di Jambi.
Ketika semua dokumen telah dikirim, saya tinggal menunggu panggilan wawancara dan Tes TOEFL di kantor AMINEF pada bulan Desember 2012. Setelah dinyatakan lolos, hal berikutnya yang harus dilakukan adalah Medical Check Up. Rupanya medical check up jauh lebih sulit dan memerlukan penantian dan kesabaran tingkat tinggi karena requirement dan standard yang ditetapkan pemerintah USA cukup tinggi. Saya sempat didiagnosa terkena TBC. Tentu saja saya tidak merasa sama sekali sehingga saya harus membuktikannya dengan X-ray, rontgen paru hingga melakukan tes darah sekali lagi di luar kota Jambi untuk membuktikan saya bersih dari penyakit TBC. Setelah proses medical check up selesai, proses terakhir adalah menanti email berisi official letter sebagai penerima beasiswa. Dari email tersebut, barulah saya tahu state dan nama community college yang menjadi tujuan studi saya yakni Scottsdale Community College, Arizona .

Sekarang saya telah menyelesaikan program ini dan merasa sangat bersyukur mendapatkan beasiswa ini. Semua ilmu, pengalaman, serta teman dan keluarga angkat yang saya temui adalah harta tak ternilai harganya. Impian saya pun terwujud. Sekarang beberapa tulisan saya sudah terbit di majalah dan koran nasional loh, cek di sini untuk portofolio saya.

Thanks a lot CCIP!

Kalau saya saja bisa menggapai mimpi ku, kenapa kamu tidak? Ayo dicoba!

Untuk info lebih lengkap dan mengunduh formnya, silahkan langsung klik web nya di sini

Masuk Majalah Cita Cinta

Thursday, October 16, 2014

Gara gara salju

Tepat sebelum saya menulis post ini, saya masih terobsesi dengan yang namanya salju. Interaksi yang paling mengasyikkan (dan paling banyak) dengan salju terakhir adalah ketika bermain ski. Biarpun jatuh, guling guling dan terseok di atas saju, semuanya tetap pengalaman indah. Persis seperti di film film!

Ambil poto sambil gemetaran
Sayangnya saya tidak sempat membuat boneka salju, ternyata oh ternyata bikin boneka salju itu ga segampang bikin es puter. Lama, butuh kesabaran dan jadinya pun ga bulet bulet amat. Mending saya melakukan Snow Angel, yakni kebiasaan masyarakat sini dengan berbaring di atas salju lalu tangan dan kaki dikepak-kepakkan hingga ada cetakan seperti peri di atas salju.

Ketika mau jalan jalan ke east coast USA, saya hanya memprediksikan akan ada sedikit salju. Secara in spring gitu loh. Pastinya gak bakal menghambat trip saya. Nyatanya, balik dari sana, saya malah jadi keki dengan salju gegara :

1. Salju bisa bikin penerbangan batal
Kalau delay masih mending, tetapi sampai batal itu nyeseknya di sini loh ---> nunjuk dada dan dompet. Malam sebelum hari keberangkatan, teman saya menunjukkan siaran perkiraan cuaca di TV. Saya hanya cengar-cengir berfikir kali aja kayak di Indonesia ada hujan lokal, di Amerika pun ada salju lokal. Ternyata tidak ada. Perkiraan cuaca di sini nggak meleset. Paginya di luar semua sudah putih. Sebagai orang tropis, saya langsung meloncat keluar kegirangan dan berlari lari di luar nggak pakai jaket. Kebodohan saya hanya berlangsung 5 menit karena setelahnya saya menggigil kedinginan. Begitu di rumah, baru saya dikabari outih salju yang saya coba makan barusan menyebabkan flight saya dari Buffalo menuju New York City dibatalkan.Cih!
Dancing in the snow storm
2. Harus naik taxi
Dikarenakan salju yang terus turun, jalanan jadi licin dan berbahaya. Diantar oleh seorang teman, maka saya buru buru diantarkan ke stasiun kereta api sebelum badai salju semakin memburuk. Si putih salju ini rupanya makin berulah. Dia mengakibatkan banyak jalur kereta/bus terlambat dan parahnya transportasi publik tidak beroperasi. Terpaksa saya harus merogoh kocek dalam dalam untuk biaya taksi. Belum lagi armada taksi di sini tidak seperti di Indonesia yang tinggal melambaikan tangan. Tidak juga seperti di film film dimana taksi kuning NYC selalu ada di tiap tikungan. Di beberapa kota, kita harus menelpon terlebih dahulu sambil bersaing dengan pelanggan lainnya. Kalau soal mahalnya, tidak diragukan lagi deh. Pfft!

3. Kemana mana kedinginan
Saya anti dingin. Lebih baik keringatan daripada harus menyelimuti badan dengan pakaian berlapis lapis. Selain itu, tangan saya biasanya sangat sensitif. Kalau tidak pakai sarung tangan, bisa beku dan buku buku jari jadi dingin dan pecah hingga luka dan berdarah. Belum lagi hidung, pipi dan telinga rasanya berasap karena terlalu dingin. Kalau begini aku nggak hanya butuh pacar, tapi juga abang bakso! Huhuhu

4. Salju coklat
Ih mana ada salju warnanya coklat yah? Ada! Salju yang diinjek orang, atau kena tanah warnanya coklat/hitam loh. Belum lagi yah kalau saljunya mulai meleleh biasanya jalanan jadi becek dan saljunya jadi tidak sedap dipandang mata. Hati hati juga licin dan suka bikin saya (hampir) kepelest. 


5. Bisa menyebabkan kematian
Nggak nyangka yah salju yang seindah itu bisa menimbulkan korban jiwa. Seperti di buffalo, dikabarkan di berita terkadang jika cuaca sedang buruk dan badai salju datang, mereka dapat menemukan homeless yang terkubur hidup hidup dalam salju. Sedih yah. Masih di Buffalo, ketika saya keliling keliling, saya juga melihat ini. Kira kira rusanya mati karena kedinginan bukan?

Rusa kering

Intinya salju itu indah tapi bisa bikin rempong jika tidak disiasati dengan baik :)

Thursday, October 9, 2014

15 jenis mi

Mi...mi...mi...aku senang sekali....aneka mi~~~~

Oh  maaf, kok jadi nyanyi. Habisnya ku ini maniak mi dan pemakan rutin indo mi. Jadi post kali ini saya dedikasikan untuk membahas aneka mi mi yang tersedia di pasaran. Tak hanya di Indonesia loh orang makan mi, namun juga di luar negeri. Hanya saja mereka memiliki penamaan untuk mi-mi ini. Misalnya kalau di USA, rata rata menyebut ramen untuk aneka mi cepat instan. Kalau di Indonesia kita bilangnya indomi, padahal makannya mi ABC.

Kadang juga orang punya streotype noodle itu segala macam yang panjang dan tipis termasuk spaghetti. Oh well, belum tau dia kalau mi itu banyak macamnya seperti ini :

1. Mi
Mi ini termasuk paling uzur dan bersejarah di dunia emi-emi-an. Dari zaman terbentuknya mi, bentuk defaultnya udah begini. Terbuat dari tepung terigu dan paling mudah dijumpai dimana saja. Warnanya kuning sehingga disebut juga mi kuning. Biasa dijadiin bahan utama mi goreng, mi rebus, mi ayam, mi untuk bakso dan lain lain.

Mi Aceh
2. Mi telor
Bedanya dengan mi di atas, kalau mi diatas biasa dijual di pasar, dalam kresek, dan masih dibuat tradisional atau kalaupun mesin masih dalam lingkup usaha rumah tangga. Kalau mi telor, yang saya tangkap bentuknya seperti mi dalam kemasam, dijual dari pabrikan, langsung tersedia dalam bentuk kering dan otomatis harganya jadi lebih mahal.

3. La Mian
arti harafiahnya dalam bahasa Cina berarti mi tarik. Tau dong film dilm yang terkadang menampilkan adegan tukang mi yang sedang menggodok adonan tepung, lalu ditarik tarik panjang, dihempas-hempaskan ke meja, tarik lagi mi nya, tambah lagi tepungnya dan seterusnya hingga tercipta mi lurus berwarna pucat itu. Hasil akgirnya adalah mi ini lebih kecil dibanding standar mi kuning. Untuk mendapatkannya, lebih sering saya jumpai di mi pangsit dimana yang jualnya orang China. Mi ini hanya direndam dengan air mendidih lalu disajikan dengan bumbu bumbu lainnya.

4. Ramen
Mi jepang yang bewarna kuning ini kalau di Indonesia layaknya mi kuning kita di Indonesia. Kalau di USA, mereka menyebut ramen untuk mi instant macam Ind*mie. Untuk rasanya jangan harap menyaingi mi kita. Yah kalau lagi ngidam banget, boleh deh. Saya sarankan pilih rasa paling pedas karena begitu nyampe lidah kita, rasanya baru pas

Ind*mie di USA

Di USA, ada juga mi instan bentuk udon yang enak.. dan lebih sehat karena nggak pake pengawet. Dijual dalam bentuk beku lengkap dengan bumbunya. TADAAA!

Ramen instan favorit
 5. Bihun
Berwarna putih, mirip dengan soun, namun terbuat dari tepung beras. Rata rata banyak ditemui dan dikonsumsi di seluruh asia

6. Udon
Mi gendut berwarna putih mulus ini terbuat dari gandum dan disajikan dalam kuah kaldu hangat. Berasal dari Jepang tapi pamornya udah Go International nih.

Udon

7. Yakisoba
Yakisoba ini lebih miripnya mi goreng ala jepang.

Yakisoba

8. Mi pok
Mi gandum kuning yang berasal dari china dan gepeng. di singapur dikenal dengan bak mee chor.kalau dikita bakmi. Dibuat secara tradisional dengan cara dikeringkan dan dicampur dengan saus dan kaldu.

9. Soba
Bertekstur tipis dan lembut populer di jepang. soba biasanya digunakan untuk membuat sup tradisional yang didinginkan dan dimakan dengan saus. mi ini sudah terkenal sejak zaman Edo dan menjadi makanan pokok di tokyo selama itu.

10. Soun
dikenal sebagai mi kacang hijau atau mi kacang benang terbuat dari pati kacang hijau.  sekarang ini soun dapat dibuat dari ubi, kentang, dan singkong. di china sendiri, soun biasanya disajikan dengan kentang goreng atau bersama sup. soun ini banyak menyebar ke banyak negara.

Soto pake soun adalah favoritku
11. Soy bean noodle
Di Batam dan sekitarnya, mi yang mirip satu ini dinamakan mi sagu. Bentuknya panjang, kental, halus dan berwarna transparan. Biasanya dimasak kuah dan goreng dengan tambahan cabe yang nikmat.

12. Kuetiau
Sebenarnya aku agak rancu. Penulisan yang benar itu kwetiau atau kuetiau yah? Ah, apapun itulah kalau orang indonesia udah tahu sama tau kuetiau kan yah? Mi yang terbuat dari beras, berwarna putih dan agak bantet. Segar dimasak jadi kuetiau kuah ataupun sangat menggoda jika digoreng dan disajikan dengan telur, tauge, seafood dan irisan cabai hijau. Slurp!

13. Misua
Misua ini kebanyakan saya temui dalam budaya Tionghoa dimana jika seseorang berulang tahun, biasanya makan misua. Misua terbuat dari tepung, berwarna putih pucat dan biasanya disajikan dalam bentuk kuah dan telur. Sangat simple, rasanya segar dan cocok juga dimakan untuk pagi hari.

14. Spagehtti
Nah ini baru mi asli bule dari Italia. Mi panjang yang sangat populer dimana mana. Untuk yang murah meriahnya, biasanya saya beli menu goceng milik KFC :p

15. Pasta
Apakah pasta itu mi juga? Bisa jadi karena mereka punya kesamaan. Kalau biasanya mi teksturnya lembut, biasanya pasta lebih keras dan harus direbus agak lama. Lalu mi biasanya disajikan dalam bentuk kuah / goreng tetapi pasta (dan juga spaghetti) hanya direbus, ditirskan dan dikasih saucenya lagi. Saucenya lah yang menentukan mrasa si pasta. Kalau mi bentuk dan ukurannya itu itu saja, pasta tampil dalam bentuk yang kreatif dan ada yang lucu lucu loh kayak bulet, panjang, keriting de el el.


Jadi Mi mana satu kesukaanmu?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...